Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Rhenald Kasali Bicara Disrupsi, Hancurnya Asosiasi, dan Pemerintah Gagal "Move On"

Kompas.com - 23/07/2018, 06:34 WIB
Kontributor Amerika Serikat, Andri Donnal Putera,
Erlangga Djumena

Tim Redaksi

Kompas TV Pengguna online masih didominasi kaum muda dan berekonomi menengah ke atas, yang jumlahnya belum signifikan.

Sama halnya dengan Go-Jek yang tidak bisa dibilang perusahaan layanan transportasi semata, karena juga menyediakan layanan perbankan lewat Go-Pay. Bahkan bisa dipakai membeli makanan hingga berkirim barang dan jasa lainnya.

Dengan memperbarui sudut pandang dan pemikiran tersebut, perusahaan bisa melihat lebih luas tantangan serta peluang ke depan. Rhenald mengingatkan, sikap terbuka merupakan kunci utama karena generasi yang lama kerap bersikap abai, bahkan menyalahkan turunnya daya beli sebagai penyebab lesunya usaha mereka ketimbang memahami disrupsi dan melakukan shifting.

"Ketika penjualan turun, ternyata bukan hanya kita, tetapi teman-teman kita, kemudian kita melipur diri dengan bilang daya beli turun, I want to tell you, that not as simple as like that. Lihatlah di tempat lain, apa terjadi secara konsisten. Daya beli turun, semua mengalami masalah, tapi kalau shifting, turun di sini, ada yang naik di sana," kata Rhenald.

Baca juga: Via Vallen, Nella Kharisma, dan Disrupsi Dangdut Koplo

Regulator gagal "move on"

Dalam menjalankan usaha, pengusaha tak lepas dari pemerintah yang berlaku sebagai regulator. Namun, Rhenald memandang pemerintah kini justru terperangkap dengan masa lalu, termasuk cara pikir dan mengacu pada teknologi masa lampau yang sebenarnya sudah tidak relevan diterapkan saat ini.

"Regulator terperangkap dengan cara berpikir yang lalu. Undang-Undang terkunci semua dengan teknologi masa lalu," tutur Rhenald.

Dia mencontohkan, fungsi argometer sudah diganti dengan GPS karena pelanggan lebih mementingkan waktu ketimbang jarak. Lebih luas lagi, UU Lalu Lintas mengatur tentang kendaraan dalam trayek, sementara semua taksi sekarang sudah jadi taksi online, baik yang pakai mobil biasa maupun taksi konvensional yang kerja sama lewat platform tertentu.

"Bagaimana pemerintah tidak gamang? Di satu pihak, dia harus menjalankan UU, teman-teman DPR lebih suka ikut acara di TV, debat-debat yang bohongin kita, ketimbang buat UU. UU jelas harus diperbarui. Kalau tidak, pemerintah harus setengah menutup mata terhadap hal-hal yang sedang terjadi," ujar Rhenald.

Hal yang bisa segera dilakukan oleh pemerintah adalah membuka diri, mulai belajar platform, serta bersama DPR menghasilkan aturan-aturan baru yang lebih futuristik. Pemerintah juga dapat menggandeng anak-anak muda yang kebanyakan memberi ide segar untuk menghadapi masa depan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com