3 Inspirasi Kehidupan Penting dari Zohri Buat Kita

Kompas.com - 25/07/2018, 07:00 WIB
Presiden Joko Widodo (kiri) menerima peraih medali emas lari 100 meter kejuaraan dunia Atletik U20 di Tampere, Finlandia, Lalu Muhammad Zohri, di Istana Bogor, Jawa Barat, Rabu (18/7/2018). Presiden berpesan kepada Zohri untuk tetap berlatih guna meningkatkan prestasi yang diraih dan selalu rendah hati.ISTANA PRESIDEN/AGUS SUPARTO Presiden Joko Widodo (kiri) menerima peraih medali emas lari 100 meter kejuaraan dunia Atletik U20 di Tampere, Finlandia, Lalu Muhammad Zohri, di Istana Bogor, Jawa Barat, Rabu (18/7/2018). Presiden berpesan kepada Zohri untuk tetap berlatih guna meningkatkan prestasi yang diraih dan selalu rendah hati.

Zohri mulai tekun berlatih. Ayahnya meninggal ketika Zohri sedang mempersiapkan pertandingan bergengsi, nyaris setahun yang lalu. Mungkin, itu pula yang membulatkan tekadnya untuk sukses.

Dengan segalanya kondisinya, Zohri justru menjadi pelajaran motivasi yang bagus. Meskipun kondisinya kurang menguntungkan, ia bisa tampail dengan luar biasa mengalahkan banyak lawan-lawannya yang memiliki fasilitas yang lebih baik. So, Zohri seakan-akan berpesan kepada kita, “Kondisimu dan latar belakangmu jangan menjadi alasan untuk TIDAK mencapai pretasi bagus. Justru JADIKANLAH kondisimu yang buruk sebagai alasan untuk mencapai prestasi yang gemilang”.

Akhirnya, ketiga. Ini menjadi pelajaran penting juga bagi pemerintah dan atlit yang lainnya. Pengorbanan Zohri sebenarnya luar biasa. Saya teringat dengan kalimat seorang mantan atlit yang kini hanya jadi pelatih sebuah club olah raga. “Di Indonesia, menjadi atlit adalah pengorbanan. Jangankan atlit yang tidak sukses. Atlit yang suksespun banyak yang hidupnya merana setelah tua.” Problemnya, ternyata ada banyak mantan atlit yang hidupnya, tidak banyak yang memedulikan.

Pengorbanan Zohri sungguh luar biasa. Ia mengorbankan masa mudanya untuk berlatih. Untuk mengharumkan bangsa. Bahkan pendidikan tinggi pun tidak dienyamnya. Kita sungguh berharap pemerintah memberikan support serius kepada para atlit-atlit kita.

Sebenarnya inilah yang menjadi kendala besar di negeri ini, yakni menjadi atlit. Banyak yang mengatakan, ini pula yang menjadi alasan mengapa di negara dengan 265 juta jiwa, sebenarnya prosentase atlit kita yang seharusnya tinggi, justru tidaklah banyak. Mengapa?

Alasannya sederhana, menjadi atlit artinya harus mengorbankan kehidupan, finansial bahkan masa depan yang belum tentu akan dijamin oleh negara. Di sinilah Zohri seolah berpesan kepada kita lagi, “Tekuni panggilan dan bakatmu, bukan karena semata-mata karena mencari rejeki. Tapi, ketika kamu sukses, rejekipun akan datang.

Tapi, semoga saja pengorbanan yang telah dilakukan oleh Zohri, sungguh diperhatikan dan diberi penghargaan setingginya oleh negeri kita.

Halaman:



Close Ads X