Bahana: Ekonomi Indonesia Masih Janjikan "Return" yang Baik

Kompas.com - 25/07/2018, 13:56 WIB
Suasana di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (21/5/2018).KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG Suasana di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (21/5/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Emiten mulai mengumumkan kinerjanya sepanjang paruh pertama 2018. Hal ini bisa menjadi tenaga bagi pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG).

Di sisi lain, sentimen negatif dari global diperkirakan akan membatasi kenaikan indeks dalam pekan ini. Pembalikan modal dari sejumlah negara Asia seperti India, Malaysia, Filipina, Indonesia dan negara lainnya, masih terjadi akibat perang dagang antara Amerika Serikat dan Cina. 

Analis Bahana Sekuritas Muhammad Wafi menuturkan, dana asing dari pasar keuangan membuat indeks dan sejumlah mata uang Asia tertekan, termasuk Indonesia. Sejak Februari 2018, indeks telah tertekan sebesar 14,3 persen dan Rupiah telah mengalami depresiasi sebesar 5,6 persen.

Meski masih tertekan, secara fundamental perekonomian Indonesia tidaklah buruk dan masih menjanjikan return yang lebih baik dibandingkan negara lain.

Tingkat konsumsi masyarakat yang cukup kuat membuat neraca perdagangan Indonesia tidak seburuk proyeksi para investor. Kekhawatiran investor pada Juni lalu justru neraca perdagangan Indonesia membukukan surplus tertinggi sejak September 2017.

"Faktor domestik memperlihatkan trend membaik yang tercermin pada angka penjualan retail yang meningkat bukan hanya karena faktor musiman puasa dan Lebaran semata," jelas Wafi dalam keterangan resminya, Rabu (25/7/2018).

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan neraca perdagangan Indonesia surplus sebesar 1,74 miliar dollar AS.

Surplus neraca perdagangan ini memberi ruang bagi kebijakan moneter untuk menahan suku bunga acuan atau BI 7-days reserve repo tetap dilevel 5,25 persen dalam rapat Dewan Gubernur minggu lalu (19/7/2018), setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga total sebesar 100 basis point (bps) sejak April 2018 untuk menjaga volatilitas nilai tukar.

''Valuasi saham-saham kita sudah berada dilevel terendah, kalau melihat rasio harga saham terhadap pendapatan emiten pada umumnya, saat ini sudah berada dilevel terendah dalam 10 tahun terakhir,'' lanjut Wafi.

Wafi juga menjelaskan bahwa BI masih konsisten akan mengambil kebijakan menaikkan suku bila diperlukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Investor seharusnya bisa melihat hal ini sebagai peluang untuk kembali masuk ke pasar keuangan Indonesia.

Rekomendasi Saham

Mempertimbangkan perkembangan global serta domestik, Bahana Sekuritas merekomendasikan membeli saham Bank Mandiri (BMRI) dengan target harga Rp 9.500 per lembar saham dan saham Bank Central Asia (BBCA) dengan target harga Rp 27.600 per lembar saham karena valuasi kedua saham bank ini cukup atraktif.

Seiring dengan semakin kuatnya konsumsi domestik, kinerja Ramayana Lestari Sentosa (RALS), Indofood Sukses Makmur (INDF) dan Erajaya Swasembada (ERAA) akan diuntungkan. Bahana menargetkan harga RALS sebesar Rp 1.570 per lembar saham seiring dengan transformasi bisnis yang dilakukan oleh manajemen dalam setahun terakhir.

Target harga INDF dipatok sebesar Rp 8.600 per lembar saham, sejalan dengan menguatnya permintaan atas barang konsumsi bergerak cepat atau fast moving consumer goods (FMCG).

ERAA dipatok dengan target harga sebesar Rp 4.000 dengan prospek margin yang semakin baik, ditopang oleh penjualan Samsung dan IPhone keluaran terbaru serta Xiaomi yang masih menjadi incaran masyarakat kelas menengah bawah.

Astra International (ASII) dengan target harga Rp 7.800 juga memiliki prospek positif karena mayoritas unit bisnisnya mengalami pertumbuhan yang cukup baik. Salah satu penyumbangnya adalah United Tractor (UNTR) dengan target harga Rp 41.100 per lembar saham, yang ditopang oleh penjualan alat berat serta prospek industri pertambangan yang semakin baik dengan stabilnya harga komoditas global.

HM Sampoerna (HMSP) juga direkomendasikan beli dengan target harga Rp 4.400 dengan market share terbesar di industri rokok dan rata-rata harga penjualan rokok masih sesuai dengan daya beli masyarakat, margin HMSP diperkirakan lebih baik dibanding produsen rokok lainnya.

XL Axiata (EXCL) dengan target harga Rp 4.000 per lembar saham, juga cukup menjanjikan karena valuasi harga sudah berada di level terendah dibanding emiten telekomunikasi lainnya.




Close Ads X