Perry: Neraca Transaksi Berjalan Tahun Ini Berat, Tekornya Tambah Besar

Kompas.com - 25/07/2018, 23:12 WIB
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo saat memberikan sambutan dalam Sarasehan Rangkaian Rakornas TPID 2018 di Gedung BI, Rabu (25/7/2018). Kompas.com/Mutia FauziaGubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo saat memberikan sambutan dalam Sarasehan Rangkaian Rakornas TPID 2018 di Gedung BI, Rabu (25/7/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memprediksi defisit transaksi berjalan tahun ini akan makin besar. Hal itu disebabkan salah satunya dari upaya untuk menggenjot ekspor belum bisa mengimbangi bahkan melampaui pertumbuhan impor yang jauh lebih tinggi dalam neraca perdagangan Indonesia.

"Kalau lihat neraca perdagangan barang dan jasa yang sering kita sebut neraca transaksi berjalan, terus terang ini berat. Tekornya tambah besar," kata Perry saat membuka diskusi di Sarasehan Nasional menjelang Rakornas Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) di Bank Indonesia, Rabu (25/7/2018) malam.

Perry menyebutkan, dari sisi ekspor sejauh ini sudah cukup baik, bahkan semua pemangku kepentingan telah mengupayakan untuk peningkatan ekspor semaksimal mungkin. Namun, di satu sisi kenaikan impor juga tidak kalah tinggi yang mengakibatkan defisit transaksi berjalan akan semakin melebar.

"Kalau tahun lalu hanya 17,5 miliar dollar AS, tahun ini bisa kemungkinan 25 miliar dollar AS atau lebih," tutur Perry.

Baca juga: Menperin: AS Ancam Indonesia untuk Kurangi Defisit Perdagangan

Pelebaran defisit transaksi berjalan yang diprediksi di antaranya didorong oleh ketidakpastian kondisi perekonomian global, perang dagang, hingga kenaikan suku bunga acuan di AS. Hal itu menyebabkan devisa yang masuk dalam bentuk investasi portofolio terhitung masih sangat rendah.

Kondisi ini berbeda dibanding tahun lalu,  karena jumlah Penanaman Modal Asing (PMA) cukup baik dan arus modal asing dalam bentuk pembelian Surat Berharga Negara (SBN) maupun saham masih besar. Sehingga, Perry menilai penting untuk segera merealisasikan penerimaan devisa dari sektor pariwisata guna mengendalikan defisit transaksi berjalan.

"Koordinasi pemerintah pusat dan daerah adalah memang untuk mendorong pariwisata, saya kira itu jadi sangat penting. Mendorong berbagai ekspor, mengurangi impor," ujar Perry.

Cadangan devisa hingga 30 Juni 2018 tercatat sebesar 119,8 miliar dollar AS. Posisi cadangan devisa akhir Juni masih lebih rendah dibanding akhir Mei 2018 sebesar 122,9 miliar dollar AS.

Adapun posisi cadangan akhir Juni setara dengan pembiayaan 7,2 bulan impor atau 6,9 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Kondisi tersebut dinilai masih di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X