Kepala BPS soal Tudingan Kemiskinan Naik 50 Persen: Kalau Ngomong Harus Pakai Data... - Kompas.com

Kepala BPS soal Tudingan Kemiskinan Naik 50 Persen: Kalau Ngomong Harus Pakai Data...

Kompas.com - 31/07/2018, 05:34 WIB
Kepala Badan Pusat Statistik SuhariyantoKOMPAS.com / ANDRI DONNAL PUTERA Kepala Badan Pusat Statistik Suhariyanto

JAKARTA, KOMPAS.com — Kepala Badan Pusat Statistik Suhariyanto angkat bicara soal tudingan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto yang menyebut tingkat kemiskinan naik 50 persen. Sedangan data BPS pada Maret 2018 menunjukkan bahwa tingkat kemiskinan berada pada level 9,8 persen, terendah sepanjang sejarah.

Suhariyanto mempertanyakan dasar Prabowo melontarkan pernyataan tersebut.  "Angka dari mana dulu? Kan kalau ngomong harus pakai data," ujar Suhariyanto di Jakarta, Senin (30/7/2018).

Suhariyanto mengatakan, BPS mengacu pada metode yang digunakan Bank Dunia di mana garis kemiskinan pada angka 2,5 dollar AS. "Kalau cuma ngomong enggak pakai data agak susah, ya. Cek saja pakai data," lanjut dia.

Suhariyanto menegaskan, setiap penelitian harus menggunakan metode dan data yang baku. Sejak awal, BPS tak pernah mengganti metode penelitian mereka sehingga hasilnya pun akan sesuai dengan data yang ada meski tak selalu sempurna.

Baca juga: Membandingkan Angka Kemiskinan dari Era Soeharto hingga Jokowi

Ia memastikan bahwa penghitungan tingkat kemiskinan tersebut bukan karena kepentingan rezim yang berkuasa saat ini.

"Siapa pun presidennya, ada kenaikan, ada penurunan. Artinya, BPS independen, tidak peduli presidennya siapa kalau memang naik ya naik," kata Suhariyanto.

Oleh karena itu, Suhariyanto meminta siapa pun yang menyangsikan hasil penelitian BPS ataupun klaim lainnya soal angka kemiskinan sebaiknya didasari dengan metode dan data yang menunjang.

"Semua orang kan bisa ngomong versinya masing-masing," kata dia.

Baca juga: Ngabalin Sebut Kritik Prabowo Subianto soal Kemiskinan Menyesatkan

Seperti diberitakan, dalam berbagai kesempatan Prabowo kerap melontarkan kritik terhadap pemerintah di bidang ekonomi.

Ia menyebut, berdasarkan hasil riset lembaga internasional, koefisien gini ratio Indonesia berada di angka 45. Artinya, 1 persen masyarakat menguasai 45 persen kekayaan nasional.

Prabowo juga mengkritik tingginya jumlah masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS). Menurut dia, masih ada sekitar 69 juta penduduk Indonesia yang terancam miskin.

Baca juga: Begini Hitung-hitungan Angka Kemiskinan di Indonesia Cara BPS

Kompas TV Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah menyebut Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, kurang lincah menghadapi Presiden Joko Widodo.



Close Ads X