Garuda Terbitkan KIK EBA Rp 2 Triliun, Rini Berharap Bisa Jadi Solusi

Kompas.com - 31/07/2018, 13:37 WIB
Menteri BUMN Rini Soemarno saat mengunjungi TBBM Pengapon, di Semarang, Jawa Tengah, Jumat (1/6/2018). KOMPAS.com/RIDWAN AJI PITOKOMenteri BUMN Rini Soemarno saat mengunjungi TBBM Pengapon, di Semarang, Jawa Tengah, Jumat (1/6/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) bersama PT Mandiri Manajemen Investasi secara resmi mencatatkan produk Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset (KIK-EBA) Mandiri GIAA01. Total KIK-EBA yang diterbitkan itu senilai Rp 2 triliun yang dibagi menjadi dua kelas, yakni Kelas A Dan Kelas B.

KIK-EBA GIAA01 merupakan instrumen sekuritisasi aset keuangan pertama di Indonesia yang menjadikan hak pendapatan atas penjualan tiket pesawat sebagai agunan. Pendapatan dari penjualan tiket yang diagunkan Garuda adalah rute penerbangan Jeddah dan Madinah.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno mengapresiasi aksi korporasi yang dilakukan Garuda Indonesia.

Dia pun berharap agar instrumen investasi ini bisa menjadi solusi dan alternatif pendanaan bagi Garuda Indonesia untuk memenuhi kebutuhan finansialnya serta melakukan ekspansi bisnis.

Baca juga: Kinerja Garuda Indonesia Terdongkrak Libur Panjang di Semester I 2018

“Saya ucapkan selamat kepada seluruh jajaran manajemen Garuda Indonesia atas kerja kerasnya dalam penerbitan produk sekuritisasi GIAA01. Ini adalah salah satu solusi alternatif pendanaan yang dilakukan Garuda Indonesia untuk memenuhi kebutuhan finansial perusahaan. Semoga inisiatif ini akan mendorong perbaikan kinerja Garuda Indonesia dan juga mendukung program Pemerintah dalam peningkatan konektivitas udara,” ungkap Rini di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (31/7/2018).

Rini pun kemudian mendorong agar ada lebih banyak BUMN dan swasta guna melakukan sekuritisasi aset mengikuti jejak Garuda Indonesia.

Tercatat baru ada beberapa perusahaan BUMN yang telah mencatatkan sekuritisasi aset. Mereka di antaranya adalah PT Jasa Marga (Persero) Tbk, PT PLN (Persero) melalui anak usahanya PT Indonesia Power dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk yang melakukan sekuritisasi aset Kredit Perumahan Rakyat (KPR).

“Beberapa BUMN telah sukses menerbitkan sekuritisasi dan mendapat respons positif dari investor. Jadi pemerintah akan terus mendorong semakin banyak BUMN yang terlibat dan ke depannya, dengan modal dan pendanaan yang cukup akan mendorong BUMN untuk melebarkan sayap ekspansi dan akan membuat BUMN semakin kuat dan tumbuh,” ungkap Rini.

Rini juga kemudian mengapresiasi sinergi BUMN yang turut mendukung pencatatan perdana KIK EBA GIAA01, yakni antara PT Bank Mandiri (Persero) Tbk dan PT Mandiri Manajemen Investasi.

Dalam pembentukan KIK EBA GIAA01 ini, PT Mandiri Manajemen Investasi bertindak sebagai Manajer Investasi, bersama dengan Maybank Indonesia sebagai Bank Kustodian.

Sedangkan agen penjual untuk KIK EBA GIAA01 ini adalah PT Mandiri Sekuritas, PT Bahana Sekuritas, PT BNI Sekuritas, PT BCA Sekuritas, PT CGS-CIMB Sekuritas dan PT Danareksa Sekuritas.

Sementara itu, produk investasi ini memiliki total nilai sebesar Rp 2 Triliun yang terbagi menjadi 2 kelas, yaitu kelas A dan kelas B.

KIK-EBA GIAA01 kelas A dilakukan melalui penawaran umum kepada investor strategis dan dilakukan melalui pencatatan di BEI dan mendapat rating AA+ dari Pefindo dengan tingkat imbal hasil sebesar 9,75 persen per annum dan tenor 5 tahun dengan nilai mencapai Rp 1,8 triliun.

Sementara Untuk KIK EBA GIAA01 kelas B dilakukan melalui penawaran terbatas dengan nilai Rp 200 miliar untuk tenor sejenis dan tingkat imbal hasil yang tidak tetap.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X