Tahun Ini BPJS Kesehatan Diperkirakan Defisit Rp 16,5 Triliun

Kompas.com - 02/08/2018, 19:08 WIB
Deputi Direksi Bidang Jaminan Pelayanan Kesehatan Rujukan, BPJS Kesehatan, Budi Mohamad Arif saat diwawancarai di Jakarta, Kamis (2/8/2018).KOMPAS.com/AKHDI MARTIN PRATAMA Deputi Direksi Bidang Jaminan Pelayanan Kesehatan Rujukan, BPJS Kesehatan, Budi Mohamad Arif saat diwawancarai di Jakarta, Kamis (2/8/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan menperkirakan akan mengalami defisit pada 2018 mencapai Rp 16,5 triliun. Atas dasar itu BPJS Kesehatan tengah berupaya mengefisiensi pengeluaran untuk mengurangi angka defisit tersebut.

“Tahun ini diperkirakan sekitar 16,5 triliun. Itulah sebabnya kita saat ini harus segera menyelamatkan program JKN,” ujar Deputi Direksi Bidang Jaminan Pelayanan Kesehatan Rujukan BPJS Kesehatan Budi Mohamad Arief di Jakarta, Kamis (2/8/2018).

Budi menambahkan, dikeluarkannya tiga Peraturan Direktur Jaminan Pelayanan Kesehatan (Perdirjampelkes) baru merupakan upaya untuk mengurangi defisit tersebut.

Peraturan yang diterbitkan tersebut terkait Penjaminan Pelayanan Katarak, Pelayanan Persalinan Dengan Bayi Baru Lahir Sehat, dan Pelayanan Rehabilitasi Medik.

Baca juga: Penghentian Obat Trastuzumab Digugat, Ini Kata BPJS Kesehatan

Dari tiga peraturan baru itu, Budi berharap pihaknya bisa menghemat anggaran hingga Rp 360 miliar.

“Jadi bauran kebijakan itu enggak cuma itu saja. Seperti misalnya kita melakukan pembiayaan terhadap rumah sakit berdasarkan performance-nya,” kata Budi.

Namun, Budi belum bisa merinci berapa jumlah efisiensi yang bisa pihaknya lakukan dari kebijakan tersebut.

“Targetnya itu masih kita hitung. Karena Rp 16,5 triliun itu adalah total perkiraan defisit, maka kita akan mengupayakan bauran itu mengenai jumlah total terakhir kita bisa capai. Bergantung dari kebijakan itu dimulainya dari kapan,” ucap dia.




Close Ads X