Jerry Ng, Bos BTPN dari Tak Masuk Radar hingga Masuk 10 Bank Aset Terbesar Indonesia - Kompas.com

Jerry Ng, Bos BTPN dari Tak Masuk Radar hingga Masuk 10 Bank Aset Terbesar Indonesia

Kompas.com - 04/08/2018, 08:05 WIB
Dirut BTPN Jerry NgKOMPAS.com/ERLANGGA DJUMENA Dirut BTPN Jerry Ng

KOMPAS.com - Akhir Januar 2018, Bank Tabungan Pensiunan Nasional ( BTPN) mengumumkan akan melakukan merger dengan Bank Sumitomo Mitsui Indonesia (SMBCI), dua bank yang saham mayoritasnya dimiliki oleh Sumitomo Mitsui Banking Corporation (SMBC) Jepang.

Kamis (2/8/2018), BTPN mempublikasikan Ringkasan Rancangan Penggabungan Usaha (merger) kedua bank. Hasil merger kedua bank ini bakal menjadi bank nomor 8 dengan aset terbesar di Indonesia. Berdasarkan laporan per Juni 2018, bank yang bakal tetap menyandang nama BTPN ini mempunyai aset Rp 179 triliun.

Meski belum masuk BUKU IV, alias bank dengan modal inti paling sedikit Rp 30 triliun, Direktur Utama BTPN Jerry Ng, yakin dalam hitungan satu dua tahun ke depan, bank hasil merger tersebut akan bisa naik kelas.

"As June, modal inti BTPN 17 triliun, SMBCI Rp 8 triliunan. Saya perkirakan harusnya 2019 atau paling telat 2020 sudah bisa masuk ke bank buku IV," ucap dia saat berbincang dengan para editor media massa di Jakarta, Jumat (3/8/2018).

Baca juga: Setelah Merger, BTPN akan Jadi Bank Terbesar ke-8 dari Sisi Aset

Jerry sendiri sudah 10 tahun menjadi nahkoda BTPN dan akan mundur setelah menyelesaikan proses merger kedua bank itu. Rencananya bank hasil penggabungan itu akan di pimpin oleh Ongki Wanadjati Dana yang saat ini menjabat sebagai Wakil Direktur Utama.

"Yang membuat saya sangat puas, 10 tahun 11 tahun lalu BTPN mungkin tidak masuk dalam hitungan sama sekali, enggak masuk dalam radar. Dalam 10 tahun ini kita bukan hanya bicara mengenai membesarkan BTPN, tapi yang penting itu kita consistently, selalu melakukan inovasi untuk menciptakan model-model bisnis yang baru," kata Jerry.

Lulusan University of Washington itu menceritakan, bahwa pihaknya memulai dengan melakukan transformasi bisnis pensiunan yang merupakan bisnis awal BTPN.

"Pensiun kami rebrand menjadi purnabakti. Kami lucurkan Mitra Usaha Rakyat, kemudian kami menggabungakan misi bisnis dengan misi sosial dengan Daya.  Kami gabungkan lagi untuk dukung bisnis landing di pensiun dan Mitra Usaha Rakyat, kami pro funding ada Sinaya," papar dia.
 

Dirut BTPN Jerry Ng dan Direktur Kepatuhan dan Manajemen Risiko BTPN Anika FaisalKOMPAS.com/ERLANGGA DJUMENA Dirut BTPN Jerry Ng dan Direktur Kepatuhan dan Manajemen Risiko BTPN Anika Faisal
Hingga 3 tahun terakhir, BTPN meluncurkan WoW dan Jenius, seiring dengan era digital yang memasuki kehidupan masyarakat Indonesia.

"WoW juga sangat mendukung program pemerintah untuk inklusi keuangan, dengan agen banking. Jenius adalah bagian dari bahwa perbankan itu akan berubah secara drastis, kita semua pakai smartphone. Hidup kita itu pasti akan digitalized, makanya BTPN luncurkan Jenius," sebutnya.

Dengan berbagai inovasi itu, di bawah kepemimpinan Jerry dalam10 tahun BTPN berkembang dari yang hanya mempunyai aset Rp 10 triliun tahun 2008, menjadi bank yang mempunyai aset Rp 99,9 triliun per akhir Juni 2018, atau bertambah hampir 10 kali lipat.

Tidak hanya itu jumlah nasabah yang asalnya 450.000, penyaluran kredit Rp 7,55 triliun, dan dana pihak ketiga (DPK) Rp 7,65 triliun, dalam 10 tahun melonjak menjadi dari 6,5 juta nasabah, total kredit Rp 67,8 triliun, dan DPK Rp 72 triliun.

Mei 2018, Jerry juga berhasil mengantarkan BTPN Syariah melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pada saat IPO, BTPN Syariah telah melayani 3,1 juta nasabah dengan total pembiayaan Rp 6,7 triliun.

"Kami bersyukur IPO-nya sangat sukses. kapitalisasi pasarnya hampir mencapai Rp 13 triliun. Jadi bank syariah mungkin paling profitable," tutur Jerry.

Baca juga: Ongki Wanadjati Bakal Jadi Dirut Bank Hasil Merger BTPN dan Sumitomo

10 tahun memimpin BTPN rupanya sudah cukup bagi pria yang hobi lari marathon ini. Tugas terakhirnya adalah menuntaskan proses merger BTPN dengan SMBCI. Dia pun menyerahkan tongkat kepemimpinan kepada sang teman,  Ongki Wanadjati Dana, untuk mengomandani bank hasil merger.

"Saya itu sudah kenal Ongki lebih dari 30 tahun, dan dia sudah 10 tahun di BTPN. Ongki itu sudah tahu persis what the good thing of the BTPN. Saya yakin Ongki akan pertahankan, dan Ongky sebagai calon pimpinan baru juga pasti akan melihat mana elemen-elemen baik yang bisa dibawa dari SMBCI," kata dia terkait pemilihan Ongky menjadi dirut bank BTPN hasil merger.

"Saya sendiri meihat bahwa waktu yang tepat untuk saya menyelesaikan masa tugas ini, memang menyelesaikan merger ini. Karena merger ini merupakan kulminasi. Saya pikir, jarang sekali dalam hidup bisa membangun bank dari yang mulai cuma Rp 10 triliun, kelarnya itu Rp 200 triliun. Jadi saya rasa, its time to move on," tambah dia.

Dia mengaku belajar dari Theodore Permadi Rachmat, konglomerat pemilik Grup Tri Putra yang juga mantan Presdir PT Astra International, dalam hal kepemimpinan.

"Saya belajar dari Pak Tedi Rahmat. Jangan sampai one bridge to far, Kita itu harus tahu kapan waktunya, memberikan tongkat kepemimpinan pada yang berikutnya. Karena sebagai seorang pimpinan, mau secanggih apapun ada waktunya, kreativitas kita pasti ada batasnya. Saya dan kawan-kawan itu melihat, ini adalah masa yang tepat karena kaami mau menghantar BTPN ke klimaksnya," papar Jerry.

 

Meski demikian hingga proses merger tuntas, Jerry mengaku dirinya tetap fokus memimpin BTPN hingga masanya jabatanya berakhir.

"Sekarang ini sejujurnya, fokus utama saya tidak memikiran what next, tapi fokus utama saya sekarang ini adalah menyelesaikan merger BTPN dengan SMBCI ini, kan masih ada 6-7 bulan ke depan," tegasnya.



Close Ads X