Benarkah Kini Lebih Baik? - Kompas.com

Benarkah Kini Lebih Baik?

Kompas.com - 05/08/2018, 07:00 WIB
Ilustrasi pertumbuhan ekonomiTHINKSTOCKS Ilustrasi pertumbuhan ekonomi

"Nanti ada yang tersinggung," begitulah komentar seorang eksekutif di tahun 1999. Suasanya kala itu Indonesia sedang serba sulit.

Badai krisis multidimensi baru saja melanda negri. Ekonomi dan politik sama susahnya. Apalagi buat armada berbendera nasional: Garuda Indonesia.

Tetapi mengklaim sesuatu yang kini lebih baik, dan faktanya akan demikian kalau transformasi dilakukan dengan baik, selalu mengundang kegelisahan dan amarah pemimpin-pemimpin yang berkuasa (dan belum selesai) di masa lalu. Padahal kini, hari ini selalu harus lebih baik dari kemarin.

Lalu apa salahnya?

Salahnya, mereka yang berkuasa kemarin merasa dizolimi, dikata-katai seakan dulu mereka hanya menikmati. Tidak bekerja sehingga mengesankan dungu, malas, kurang kompetensi.

Saya langsung membantahnya demi kesantunan, " Itu hanya satu perspektif. Kini lebih baik karena setiap langkah ke depan harus lebih baik. Lagi pula saat itu Garuda Indonesia perlu mengubah pandangan yang salah bahwa kita masih seperti kemarin."

Saya mencoba menghibur mereka yang tersinggung itu. Tetapi sudah tak bisa. "Kompor" yang memanas-manasi pemimpin kemarin telah bergerak jauh lebih cepat. Mereka lebih senang melihat kalau kini tidak lebih baik. Ini sungguh bertentangan dengan keinginan rakyat.

Saat itu CEO Abdul Gani yang memimpin transformasi di Garuda baru saja menjalankan teknik "bakar kapal" bak panglima perang yang terkenal dalam sejarah Islam, Thariq bin Ziyad saat menaklukkan Spanyol.

Ketika sampai di Spanyol, Thariq membakar semua perahu yang digunakan prajuritnya agar mereka tak berpikir untuk kembali pulang sebelum menang. Dan Gani berhasil menyulutkan harapan perubahan.

Kampanye “Kini lebih baik" Garuda Indonesia pun segera dieksekusi biro iklan Matari. Dan pendapat publik pun terbelah, pro dan kontra mirip suasana menjelang pilpres hari ini.

Pemimpin Juga Mewariskan Kesulitan

Sebelum membaca siapa merespons apa dalam konteks negri ini hari ini, saya ajak anda mengikuti suasana yang saya rasakan saat mendampingi direksi Garuda Indonesia melakukan transformasi. Peristiwa itu terjadi antara tahun 1998-2000.

Konteksnya: Indonesia dan Garuda tengah dilanda krisis. Cash flow-nya negatif. Pelayanannya begitu buruk. Dikenal sebagai maskapai yang selalu delay.

Jokesnya, yang beredar GARUDA itu singkatan dari "Garuda Always Reliable Until Delay Announced" (Garuda selalu dapat diandalkan sampai pengumuman keterlambatan diumumkan). Belum lagi berita-berita miring, bertebaran dimana-mana. Maklum seleksi pegawai saat itu juga banyak katebelecenya.

Demikianlah tanpa penerapan good governance menteri dan pejabat bisa mewariskan banyak kesulitan bagi penerusnya. Pejabat bisa seenaknya menahan keberangkatan pesawat kalau mereka terlambat tiba di bandara. Lalu tak sedikit penguasa yang bisa mengirim kargo tanpa membayarnya.

Juga sering dilaporkan pesawat penuh, bahkan kadang kita tak bisa membeli tiket, namun di dalam pesawat kita saksikan banyak bangku kosong. Kenapa bisa begitu?

Hutangnya yang saat itu jatuh tempo tak bisa dibayar sehingga pesawatnya yang mendarat di luar negri nyaris disita pengadilan.

Singkat cerita masuklah CEO Abdul Gani yang menimpin transformasi. Yang utama diubah bukan teknis, tetapi paradigma. Ketepatan waktu dan load factor bisa diperbaiki dalam waktu setahun. Pelayanan membaik. Good governance dan system diterapkan.

Tentu banyak yang gelisah. Tetapi cashflow menjadi positif. Mereka bekerja bak kancil melawan kemuskilan. Kerja-kerja-kerja siang dan malam.

Saya adalah sedikit di antara pihak yang menyaksikan dan mendampingi mereka. Siang malam, menghadapi orang-orang yang marah dan resisten.

Alhasil banyak orang baik dan eksekutif handal yang bisa diajak "menari". Garuda Indonesia berhasil terbang dengan gagah kembali. Demikian pula Indonesia hari ini. Tak ada yang bisa mengalahkan prestasi orang yang bekerja. Banyak ngomong saja, apalagi ngawur-ngawuran, tak akan membawa kemakmuran. Itu sudah hukum alam.

Kini Harus Lebih Baik

Tetapi begitulah manusia berusaha. Kampanye “kini lebih baik” saat itu dimaksudkan untuk membangun kepercayaan publik yang telah patah arang terhadap Garuda untuk kembali. Mereka sudah lebih dulu jatuh cinta pada armada udara asing. Garuda Indonesia seakan mengatakan, “coba dulu dong baru berkomentar.”

Sambutan di luar (pasar) mulanya sangat sinikal karena layanan buruk sekali selama bertahun-tahun. Sementara armada dari negri tetangga berubah bagus sekali.

Tahun-tahun berikutnya Garuda mendapat kepercayaan yang besar dari dunia sebagai the most improved airlines. Akhirnya publik di sini pun menerimanya.

Namun siapakah yang tetap berbicara buruk dan sinikal? Anda benar. Mereka adalah orang-orang yang ingin segera mengganti pimpinan. Maka sekalipun mereka melihat perubahan, mereka pantang memuji.

Yang kedua, mereka yang duduk di luar dan tak pernah naik pesawat samasekali. Itulah para komentator yang hanya berpikir memakai persepsi. Dan sepanjang zaman mereka akan selalu ada.

Tetapi masih ada satu lagi, orang-orang lama.

Sejumlah eksekutif menilai kampanye kini lebih baik sebagai hal yang buruk. Maklum mereka adalah bagian dari masa lalu. “Kalau hari ini lebih baik, maka kalian secara implisit mengatakan kami kurang baik.”

Demikianlah pembangunan atau perbaikan. Setiap generasi selalu mengupayakan kemajuan, yang dalam banyak hal berarti mengatasi hambatan-hambatan yang tak bisa dilakukan para pendahulu.

Namun apapun prestasi yang dicapai setiap penerus, selalu dipandang sebagai “ancaman” bagi pendahulu.

Juga ancaman bagi calon-calon penguasa baru. Mereka mungkin suka pada hasilnya, tetapi gelisah ketika keadaan terpaksa dikontraskan dengan masa lalunya atau dengan prestasinya yang belum teruji.

Govindarajan mengatakan, strategi adalah tentang kepemimpinan di hari esok. Tetapi strategi bukanlah sesuatu yang harus dilaksanakan di hari esok. Melainkan hari ini. Kadang pemimpin perlu membuang kebiasaan dan cara000 yang sudah tidak relevan di masa lalu untuk menciptakan sesuatu yang baru.

Butuh kerelaan dan kedewasaan memandang masa depan baru Indonesia. Sebab ukuran-ukuran obektifnya, baik mikro maupun makro ekonomi sudah ada. Kalau hutang meningkat tinggal kita lihat asetnya bertambah atau tidak. Faktanya aset-aset kita tumbuh diatas hutang yang diambil. Angka kemiskinan menurun, demikian juga angka ketimpangan.

Kecuali anda mengubah parameternya dengan yang dipakai saat anda berkuasa dulu. Dan masih banyak lagi fakta-fakta objektif lainnya yang sulit terbantahkan bahwa banyak keadaan telah berubah menjadi lebih baik. Namun setiap kemajuan selalu menyisakan ruang untuk diperbaiki di hari esok. Juga karakter kemajuan selalu menciptakan masalah baru.

Tetapi biarlah masa lalu itu telah menjadi sejarah, sia-sia untuk diperbaiki. Jadi pemimpin kemarin berhentilah mengubah jalan hidup dan persepsi tentang prestasinya. Berhentilah memberi komentar yang tak perlu kalau hari ini telah menjadi lebih baik.

Dalam bahasa Inggris kita menyebut hari ini sebagai "the present", yaitu hadiah (dari sebuah kerja keras). Sedangkan 5 tahun ke depan, itu adalah misteri (renungan dari Kungfu Panda). Yang akan lebih indah kalau kita semua ikut mengukirnya bersama-sama.

Ah kita kan bukan kanak-kanak lagi, yang saling berebut layangan lalu merobeknya kala kalah, bukan?


Komentar
Close Ads X