Kuartal II 2018, Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 5,27 Persen

Kompas.com - 06/08/2018, 12:53 WIB
Jajaran pimpinan BPS saat memaparkan perkembangan inflasi Juli 2018 di kantor BPS, Jakarta, Rabu (1/8/2018). KOMPAS.com/AMBARANIE NADIAJajaran pimpinan BPS saat memaparkan perkembangan inflasi Juli 2018 di kantor BPS, Jakarta, Rabu (1/8/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Pusat Statistik ( BPS) mencatat, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2018 sebesar 5,27 persen. Angka tersebut tumbuh lebih tinggi daripada kuartal I 2018 sebesar 5,06 persen.

Pertumbuhan ekonomi kuartal II 2018 juga masih lebih tinggi dibandingkan pada kuartal II 2017 yang sebesar 5,01 persen. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi semester I 2018  tumbuh 5,17 persen.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, dari sisi produksi, pertumbuhan ekonomi kuartal II 2018 terhadap perode yang sama tahun lalu didorong oleh semua lapangan usaha.

"Pertumbuhan tertinggi dicapai lapangan usaha jasa lainnya yang tumbuh 9,22 persen," ujar Suhariyanto dalam konferensi pers di kantor BPS, Jakarta, Senin (6/8/2018).

Kemudian, diikuti pertumbuhan jasa perusahaan sebesar 8,89 persen, serta transportasi dan pergudangan sebesar 8,59 persen. Suhariyanto mengatakan, industri pengolahan memiliki sumber pertumbuhan tertinggi sebesar 0,84 persen.

Diikuti subsektor perdagangan besar-eceran dan reparasi mobil-sepeda motor sebesar 0,69 persen, pertanian, kehutanan, dan perikanan tumbuh menjadi 0,64 persen, konstruksi sebesar 0,55 persen, serta transportasi dan pergudangan 0,35 persen.

Sementara itu, dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi dicapai komponen pengeluaran konsumsi lembaga nonprofit yang melayani rumah tangga (PK-LNPRT) yang tumbuh 8,71 persen.

"Ramadhan dan Lebaran memang membawa berkah ke beberapa sektor. Semua bergerak positif, jauh lebih baik daripada kuartal II 2017," kata Suhariyanto.

Kedua momentum tersebut dianggap mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2018. Konsumsi di beberapa sektor meningkat, seperti makanan, transportasi, hingga konsumsi pemerintah untuk tunjangan hari raya.

"Kenaikan belanja pemerintah dipicu dua hal, naiknya realisasi belanja pemerintah pusat dan dltransfer pemerintah pusat ke daerah," sebut Suhariyanto.

Ditambah lagi angka inflasi yang relatif lebih rendah dari tahun-tahun sebelumnya, yakni 0,59 persen pada Juni 2018.

"Saya perlu highlight target kita 5,4 persen. Meski belum mencapai target, 5,27 angka yang bagus," tutur Suhatiyanto.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X