Indef: Pertumbuhan Ekonomi Tinggi Hanya Sementara

Kompas.com - 07/08/2018, 18:07 WIB
Peneliti senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Enny Sri Hartati seusai acara diskusi di Jakarta, Sabtu (30/4/2016)KOMPAS.com/NABILLA TASHANDRA Peneliti senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Enny Sri Hartati seusai acara diskusi di Jakarta, Sabtu (30/4/2016)

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Enny Sri Hartati menyatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II 2018 sebesar 5,27 persen dan dipandang tinggi hanya sementara.

Pasalnya, kontribusi pengeluaran pemerintah dalam pembangunan infrastruktur, serta bantuan sosial dan subsidi berdampak kecil terhadap peningkatan sektor produktif.

"Dan termasuk terbatas, ada kenaikan (produktivitas) tapi terbatas. Kalau dibandingkan, pertumbuhan government expenditure (belanja pemerintah) dengan pertumbuhan konsumsi rumah tangga itu tidak sebanding, ternyata masuknya di inventory," jelas Enny ketika memberikan penjelasan kepada awak media, Kamis (7/8/2018).

Inventory adalah merupakan stok bahan yang digunakan untuk memudahkan sistem produksi.

Lebih lanjut Enny menjelaskan, tingginya inventory di kuartal II 2018 menunjukkan indikasi produktivitas yang cenderung turun pada kuartal berikutnya.

Enny menjelaskan, stimulus yang diberikan pemerintah umumnya hanya dimanfaatkan  masyarakat untuk menambah belanja.

Hal ini tidak mendorong munculnya dampak rentetan pada sisi produksi. Sebab, belanja yang dilakukan pun berasal dari impor.

"Mudahnya, ada bansos (bantuan sosial) ada rastra (beras sejahtera) untuk pengurangan pembelian beras, tapi di sisi produksinya tidak bergerak karena yang dipenuhi dan dibeli, kebanyakan menyerap bahan impor sehingga inventory meningkat. Secara statistik produksi memang tumbuh tapi pertumbuhannya itu mandek," jelas Enny.

Alasan lain dari tidak berlanjutnya pertumbuhan ekonomi tinggi pada kuartal III ditunjukkan dari struktur komponen BPS yang tidak koheren dengan kondisi pasar. Enny mencontohkan, data BPS menunjukkan sektor pertanian menyumbang pertumbuhan ekonomi 0,64 persen, dibandingkan kuartal I 2018 sebesar 0,42 persen.

Untuk tanaman pangan, angkanya sebesar 3,42 persen, mencatat pertumbuhan positif dibandingkan kuartal I 2018 yang minus 3,47 persen. Kemudian, tanaman hortikultura juga mengalami peningkatan, yakni 8,5 persen dibandingkan kuartal I 2018 di kisaran 7 persen.

"Tapi kita lihat harga bahan pokok naik, seperti cabai merah dan sayur-mayur yang kebanyakan juga impor. Kita bingung itu kenaikannya dari mana. Kemarin Mentan (Menteri Pertanian) bilang bisa ekspor bawang merah tapi secara agregat kita masih defisit, kebutuhan dalam negeri masih besar," ujar Enny.

Ia menyimpulkan, pertumbuhan ekonomi yang tinggi pada kuartal II 2018 bersifat temporer. Sebab, pertumbuhan hanya didorong konsumsi masyarakat dan belanja pemerintah sifatnya tak berkesinambungan.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, ekonomi Indonesia tumbuh 5,27 persen secara tahunan (yoy) pada kuartal II 2018. Adapun secara kuartalan (qtq), pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 4,21 persen.

Kenaikan ini cukup menggembirakan karena di luar ekspektasi.

Dalam lima tahun terakhir, sejak kuartal I 2014, pertumbuhan ekonomi berada di kisaran rata-rata 4,7 hingga tertinggi 5,21 persen. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2018 menjadi yang tertinggi sejak 2014.





Close Ads X