Waskita Karya akan Terima Pembayaran Rp 4 Triliun dari Pemerintah

Kompas.com - 08/08/2018, 11:45 WIB
Kereta LRT Palembang saat berada di Depo Jakabaring KOMPAS.com/ Aji YK PutraKereta LRT Palembang saat berada di Depo Jakabaring

JAKARTA, KOMPAS.com - PT Waskita Karya Tbk (WSKT) tengah menanti pencairan pembayaran proyek light rail transit (LRT) Palembang. Pencairan piutang tersebut bakal menentukan arah pendanaan restrukturisasi utang perusahaan ini di tahun ini.

Mengutip Kontan.co.id, Rabu (8/8/2018), Direktur Keuangan WSKT Harris Gunawan mengatakan, pembayaran senilai Rp 4 triliun tersebut prosesnya tengah dalam tahap pemeriksaan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Proses pemeriksaan biasanya memakan waktu sekitar 3 minggu.

"Semoga lebih cepat, jadi targetnya Agustus ini bisa cair," ujar dia, Selasa (7/8/2018).

Sejatinya, pembayaran yang akan diterima WSKT seluruhnya mencapai Rp 9 triliun. Pembayaran senilai Rp 4 triliun tersebut merupakan pembayaran kedua, berdasarkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) saat ini. Pembayaran pertama dengan nilai sebesar Rp 1,8 triliun sudah dilakukan beberapa waktu lalu.

Prioritaskan piutang

WSKT sebelumnya berniat merilis obligasi Rp 3,5 triliun. Sebagian dana bakal digunakan untuk melunasi utang obligasi Rp 350 miliar yang jatuh tempo Oktober. Tapi, penerbitan obligasi ini tidak lagi menjadi rencana prioritas. "Kami lebih prioritaskan untuk pencairan piutang dulu," imbuh Harris.

Selain pembayaran termin dari LRT, WSKT juga tengah menanti pembayaran dari sejumlah proyek tol. Jika ditotal, WSKT bakal menerima pembayaran sekitar Rp 19 triliun hingga akhir 2018.

Bukan tanpa alasan manajemen mengambil strategi untuk mempercepat pencairan piutang. Mengandalkan pemasukan dari piutang dinilai lebih memberikan banyak manfaat ketimbang merilis instrumen utang baru.

Selain membuat WSKT memiliki kas tambahan tanpa mendapat tanggungan beban bunga yang baru, pencairan piutang juga membuat arus kas operasi menjadi lebih positif. Terlebih, emiten BUMN konstruksi sempat dilanda isu terkait hal tersebut.

Arus kas operasi ditentukan oleh kelancaran pencairan piutang. "Kalau arus kas operasi negatif tapi nilainya kecil, atau bahkan bisa positif, dampak positifnya banyak," imbuh Harris.

Strategi WSKT saat ini membuat perusahaan fokus pada kontrak existing. Hal ini memberikan konsekuensi berupa penurunan perolehan kontrak baru sebesar 76% menjadi Rp 7,65 triliun di semester I 2018.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber KONTAN
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X