Strategi Bakpia Japon Bertahan Dalam Ketatnya Persaingan Bisnis di Yogyakarta - Kompas.com

Strategi Bakpia Japon Bertahan Dalam Ketatnya Persaingan Bisnis di Yogyakarta

Kompas.com - 10/08/2018, 13:30 WIB
Proses pembuatan Bakpia Japon di Desa Trimurti, Kecamatan Srandakan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.KOMPAS.com/AMBARANIE NADIA Proses pembuatan Bakpia Japon di Desa Trimurti, Kecamatan Srandakan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Bertandang ke Yogyakarta, sayang jika melewatkan oleh-oleh bakpia, camilan khas daerah istimewa yang umumnya terbuat dari kacang hijau.

Seperti diketahui, Yogyakarta bagai surganya bakpia dengan berbagai merk, dari yang murah hingga mahal. Rasa yang ditawarkan pun beragam, selain original, ada pula yang rasa cokelat, keju, hingga durian.

Salah satu unit usaha mikro kecil menengah yang unjuk gigi di tengah himpitan persaingan bisnis bakpia yaitu Bakpia Japon. Produksi bakpia tersebut dilakukan di Desa Trimurti, Kecamatan Srandakan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Pemilik Bakpia Japon, Dwianto (38) sudah 9 tahun bergabung dengan program Unit Layanan Modal Mikro (ULaMM) milik PT Permodalan Nasional Madani.

Sebelum meminjam untuk modal, bakpia tersebut hanya dijajakan berkeliling menggunakan sepeda. Sesekali menerima pesanan dari tetangga untuk acara. Namun, modal yang mereka miliki tidak banyak.

"Kami gabung ke PNM untuk penambahan modal bahan baku," ujar Dwianto.

Sebelum meminjam modal dari PNM, dalam satu bulan hanya memproduksi 10-20 sak tepung. Satu sak tepung bisa menghasilkan 4.000 butir bakpia. Kini Bakpia Japon bisa mengolah tiga sak tepung perhari.

Saat hari raya, Bakpia Japon mendapat pesanan lebih banyak, hingga delapan sak tepung. Dwianto mengatakan, usahanya terus berproduksi setiap hari. Kecuali saat Lebaran, pegawai diliburkan satu hari.

Dengan modal yang diperoleh tersebut, Bakpia Japon kini memiliki empat mesin penggiling kulit dan peralatan memanggang. Untuk sasaran penjualan, Bakpia Japon kebanyakan memproduksi untuk hajatan.

"Soalnya kalau untuk toko banyak sortiran. Kalau hajatan kan langsung habis," kata Dwianto.

Saat ini, Dwianto memiliki 25 pegawai. Jumlahnya turun semenjak mulai membangun usaha yang ebih besar pada 2009, yakni sekitar 35-40 pekerja.

"Sekarang saingannya banyak," kata dia.

Keunikan rasa

Setiap butir bakpia dihargai Rp 1.000. Dalam satu kemasan isi 15 dihargai Rp 14 dan isi 20 seharga Rp 18.000. Harga tersebut relatif lebih murah ketimbang bakpia merk lainnya yang dijual di toko oleh-oleh.

Meski murah, Dwiatno memastikan kualitas tetap jadi prioritas. Ia mengatakan, perbedaan Bakpia Japon dengan bakpia lainnya terletak pada rasa dan tekstur. Isian kacang hijaunya lebih padat dan terasa lebih manis. Sehingga saat digigit isiannya tidak buyar. Rasanya juga variatif, mulai dari original, cokelat, keju, hingga durian.

"Kalau tidak ada pesanan, hanya rasa original (kacang hijau)," kata Dwianto.

Dwianto mengaku juga beberapa kali mendapat pesanan dari keraton Yogyakarta. Selain dijual di toko oleh-oleh, Bakpia Japon juga dibeli oleh merk lain. Sehingga bakpia yang digunakan adalah bakpia Japon, namun dipasarkan dengan merk lain yang lebih mahal.

"Bakpia pathok juga kadang ngambil ke sini," kata dia.

Seiring bertumbuhnya usaha Bakpia Japon, kondisi finansial Dwiatno dan keluarganya juga membaik. Yang sebelumnya hanya bermodal sebuah sepeda, kini mereka memiliki dua mobil pribadi dan dua mobil khusus mendistribusikan bakpia.


Close Ads X