Dirut BEI: IHSG Tahun Politik Cenderung Naik - Kompas.com

Dirut BEI: IHSG Tahun Politik Cenderung Naik

Kompas.com - 10/08/2018, 14:43 WIB
Suasana di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (21/5/2018).KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG Suasana di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (21/5/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Inarno Djayadi menyatakan bahwa persoalan pemilu terutama pemilihan presiden (pilpres) tidak terlalu memengaruhi indeks saham di Pasar Modal Indonesia.

Hal tersebut pun berlaku pada penetapan calon presiden dan calon wakil presiden sebelum pilpres digelar.

"Soal pemilu saya melihat dari tren tiga pemilu terakhir, 2004, 2009, dan 2014 memang enggak terlihat dampaknya, enggak ada pengaruh antara pemilu terkait penurunan indeks," jelas Inarno di Gedung BEI, Jakarta, Jumat (10/8/2018).

Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG) pada tahun politik pemilu presiden malah cenderung mengalami peningkatan.

Baca juga: Saham Saratoga Menguat, Prabowo-Sandiaga Bisa Penuhi Harapan Pasar?

Jika dilihat dari data BEI, IHSG pada 2004 ada pada level 1,000.233 atau tumbuh 44,56 persen dari tahun 2003 yang hanya 691.895.

Hal sama terjadi saat tahun 2009. Kala itu, IHSG meroket 86,98 persen ke level 2,534.356 setelah pada 2008 hanya ada di level 1,355.408.

Kemudian pada 2014, IHSG kembali mengalami kenaikan sebesar 22,29 persen ke level 5,226.947 dari sebelumnya hanya 4,274.177.

"Crash indeks itu hanya terjadi ketika 2008 akibat krisis global," ucap Inarno.

Pada periode tersebut, pergerakan IHSG merosot hingga 50,64 persen dari 2007. IHSG 2008 anjlok ke level 1,355.408 setelah pada tahun sebelumnya berada pada level 2,745.826.

Sementara itu, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Hoesen juga mengamini ucapan Inarno tersebut.

Menurut dia, para pelaku pasar lebih melihat stabilitas ekonomi dan pasar keuangan di Indonesia.

"Kita sebagai otoritas melihatnya dari pengalaman Pemilu 2014 rasanya tidak ada dampak atau kejadian yang signifikan. Artinya politik di kita diapresiasi karena pemilihan langsung paling aman sedunia. Tidak pernah rusuh dan tidak ada kejadian, mudah-mudahan 2019 akan berlangsung dengan baik," tuturnya.

Hoesen menambahkan, pasar modal Indonesia terutama BEI saat ini telah lebih kuat dalam melakukan pengawasan aliran dana masuk jelang pemilu 2019, seperti halnya pencucian uang dana-dana panas pendukung dari pasangan calon.

"Untuk pemantauan tadi ada aliran dari mana ke mana itu jadi standar, bukan spesfik untuk tahun politik saja. Sekarang infrastruktur kita sudah ada dan kita sedang berupaya negara menjadi negara yang mendapatkan rating baik dalam pengawasan terhadap pencucian uang," sambung Hoesen.


Adapun penguatan IHSG terjadi pada Jumat pagi atau tepat sehari setelah penetapan capres dan cawapres untuk Pemilu 2019 mendatang.

IHSG pada Jumat pagi dibuka menguat 25,25 poin atau 0,42 persen menjadi 6.090,50 setelah pada Kamis (9/8/2018) ditutup melemah 29,57 poin ke angka 6.065,25.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Komentar
Close Ads X