Pasar Khawatir Efek Domino Turki, IHSG Sesi I Ditutup Anjlok 200 Poin

Kompas.com - 13/08/2018, 12:20 WIB
Suasana Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (21/5/2018). KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNGSuasana Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (21/5/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG) sesi pertama Senin (13/8/2018), ditutup melorot 200,13 poin atau 3,29 persen pada 5.877,04.

Data RTI menunjukkan, terdapat 368 saham yang merah dan hanya 32 saham yang hijau. Adapun nilai transaksi mencapai Rp 4,09 triliun dengan volume 4,89 miliar saham.

Salah satu faktor utama yang dianggap penyebab merosotnya IHSG yakni krisis mata uang Lira di Turki.

Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee mengatakan, turunnya nilai Lira membuat pasar khawatir muncul efek domino.

Baca juga: Terimbas Turki, IHSG Anjlok 111 Poin dan Rupiah Melemah ke Rp 14.600 Per Dollar AS

"Message pelemahan lira Turki ini menyebabkan orang berpikir bahwa investor asing akan meninggalkan emerging market, termasuk indonesia. Jadi ini yang menyebabkan IHSG melemah," ujar Hans kepada Kompas.com, Senin (23/8/2018).

Dalam beberapa waktu terakhir, IHSG terus bergerak naik. Hal ini disebabkan laporan keuangan dan laba korporasi yang bagus, pertumbuhan ekonomi meningkat, dan inflasi yang terkendali.

Namun, di penghujung pekan lalu diketahui bahwa cadangan devisa turun. Di sisi lain, pasar memang tengah melakukan koreksi sehingga mempengaruhi IHSG.

"Saya lihat minggu ini minggu koreksi di pasar, apalagi didukung oleh masalah lira," kata Hans.

Selain itu, Hans melihat pasar mulai kembali khawatir dengan perang dagang. Masa-masa kekhawatiran itu sempat suru karena kondisi korporasi yang cukup bagus. Namun, pasar mulai menyadari bahwa mereka mulai mengabaikan dampak perang dagang sehingga segera melakukan koreksi.

Apalagi, setelah melihat dampak lira Turki terhadap pelemahan rupiah menjadi Rp 14.600 terhadap dollar AS.

"Masalah lira Turki ini bisa menyebabkan rupiah melemah, di sisi lain cadangan devisa terbatas, di sisi lain juga market mulai introspeksi," kata Hans.

Di pasar obligasi, minat investor asing juga berpotensi mengendur. Akhir pekan lalu, yield US Treasury bertenor 10 tahun turun 1,8 persen menjadi 2,87 persen. Sementara, indeks dollar AS menanjak menembus level 96. Hal ini yang menyebabkan nilai tukar rupiah tertekan.

Baca juga: Erdogan Ajak Rakyat Turki Jual Dollar dan Euro

 

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X