Tak Hanya Turki, Faktor Dalam Negeri Pun Sebabkan Pelemahan Rupiah

Kompas.com - 13/08/2018, 17:16 WIB
Direktur INDEF Enny Sri Hartati, dalam sebuah diskusi Evaluasi Efektivitas Paket kebijakan Ekonomi I-XII di Jakarta (30/5).Ahmad Fauzi Direktur INDEF Enny Sri Hartati, dalam sebuah diskusi Evaluasi Efektivitas Paket kebijakan Ekonomi I-XII di Jakarta (30/5).

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Eksekutif Institute of Development for Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati menyatakan bahwa depresiasi rupiah ke level Rp 14.600 per dollar AS hari ini tak hanya disebabkan kondisi di Turki.

Pelemahan rupiah juga dipicu oleh faktor dalam negeri, salah satunya adalah faktor politik, yakni penetapan calon presiden ( capres) dan calon wakil presiden (cawapres) yang terjadi akhir pekan lalu.

"Jadi paling kuat dalam jangka pendek tentu tidak bisa dilepaskan dari respon peristiwa politik, tetapi peristiwa politik ini hanya, jangka temporary," kata Enny di Jakarta, Senin (13/8/2018).

Enny menambahkan, faktor utama yang memicu pelemahan rupiah tersebut tetap kondisi fundamental perekonomian dalam negeri. Tingginya defisit neraca perdagangan dan defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) pada kuartal II 2018 menyebabkan semakin menurunnya nilai tukar rupiah.

"Jadi memang ada faktor fundamental yang mendapatkan tekanan dari defisit neraca perdagangan dan pembayaran, itu memang modal utamanya dulu. Respon terhadap kondisi politik pasti ada dan memengaruhi sektor keuangan, tetapi respon dari sisi politik itu tidak bisa dibaca permanen," imbuh dia.

Tekanan-tekanan terhadap CAD, neraca perdagangan, dan neraca pembayaran itu kemudian diprediksi terus bertahan hingga akhir 2018. Pasalnya, pada periode tersebut ada kebutuhan utama yang harus diselesaikan untuk transfer devisa baik untuk dividen dan untuk membayar upah tenaga kerja asing di Indonesia serta untuk memenuhi kebutuhan impor.

"Dengan begitu, tekanan ini dikalkulasi oleh pasar untuk melihat ketersediaan valuta asing hasil dari ekspor itu apakah cukup memenuhi untuk kepentingan-kepentingan itu, apalagi kalau kita lihat memang tren harga minyak dunia ini masih belum berhenti sehingga itu berpotensi untuk terjadinya defisit neraca perdagangan dari sektor migas," sambung Enny.

Sebelumnya diberitakan, pagi ini rupiah melemah ke level Rp 14.600 per dollar Amerika Serikat (AS). Di pasar spot, sampai pukul 12.33 WIB tercatat nilai tukar rupiah terhadap dollar AS tercatat sebesar Rp 14.612.




Close Ads X