Pasar Obligasi Indonesia Terdampak Krisis Keuangan Turki

Kompas.com - 13/08/2018, 19:48 WIB
Ilustrasi transaksi obligasi negara. KOMPAS/LASTI KURNIAIlustrasi transaksi obligasi negara.

JAKARTA, KOMPAS.com - Krisis keuangan yang mendera Turki mulai menimbulkan dampak negatif secara tidak langsung terhadap pasar obligasi Indonesia.

Analis Fixed Income MNC Sekuritas, I Made Adi Saputra menjelaskan, pasar obligasi dalam negeri mengalami koreksi akibat pelemahan rupiah yang ditimbulkan oleh koreksi nilai tukar lira terhadap dollar AS.

Hal tersebut terbukti manakala rupiah ditutup melemah 0,9 persen ke level Rp 14.608 per dollar AS pada Senin (13/8/2018), yield surat utang negara (SUN) seri acuan 10 tahun melesat menjadi 7,89 persen sehingga harganya terkoreksi di level terendah 88,08.

Padahal, Jumat lalu (10/8), yield SUN 10 tahun masih berada di level 7,65 persen.

“Kondisi makroekonomi Indonesia masih cukup baik. Namun, karena rupiah terpapar sentimen krisis keuangan di Turki, pasar obligasi Indonesia juga terkena imbasnya,” ungkap Made, Senin (13/8).

Ia melanjutkan, pelemahan lira yang diikuti oleh pelemahan rupiah membuat investor asing rentan melakukan aksi jual di pasar obligasi domestik. Sebab, investor asing enggan mengambil risiko berinvestasi di negara-negara emerging market jika dihadapkan pada kondisi pasar seperti sekarang.

Investor asing pun cenderung memburu aset safe haven. Permintaan terhadap surat utang AS lantas mengalami peningkatan. Inilah yang membuat yield US Treasury masih bergerak stabil di kisaran 2,86 persen.

Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, Ahmad Mikail sependapat. Menurutnya, dana investor asing berpotensi besar keluar dari pasar obligasi Indonesia secara jangka pendek.

Terlebih lagi, data defisit transaksi berjalan Indonesia di kuartal II 2018 lalu cukup mengkhawatirkan karena melebar menjadi 3 persen dari produk domestik bruto (PDB). “Investor asing menilai data tersebut membuat risiko di Indonesia cukup tinggi,” katanya.

Selain itu, posisi yield SUN yang terus melonjak hingga mendekati level 8 persen dianggap dapat berdampak negatif terhadap pelaksanaan lelang surat berharga negara (SBN) di pasar primer. Pasalnya, investor cenderung akan meminta yield yang tinggi sedangkan pemerintah belum tentu bisa mengabulkan seluruh keinginan investor tersebut.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X