Pertumbuhan Ekonomi Perkasa, Rupiah Justru Nelangsa

Kompas.com - 13/08/2018, 20:47 WIB
Petugas teller Bank Mandiri menghitung uang rupiah di kantor cabang Plaza Mandiri, Jakarta, Jumat (11/8/2017).KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO Petugas teller Bank Mandiri menghitung uang rupiah di kantor cabang Plaza Mandiri, Jakarta, Jumat (11/8/2017).

JAKARTA, KOMPAS.com - Pertumbuhan ekonomi sebesar 5,27 pada kuartal II 2018 masih belum bisa mengerek nilai tukar rupiah terhadap dollar AS.

Sentimen negatif masih membayangi rupiah yang hari ini menyentuh level Rp 14.600 per dollar AS.

Angka tersebut pun menjadi yang tertinggi selama pelemahan rupiah sejak awal 2018. Situasi tersebut kemudian dianggap tak mengejutkan, lantaran pada kuartal II 2018 neraca perdagangan masih mengalami defisit plus masih adanya defisit transaksi berjalan sebagai kondisi fundamental perekonomian Indonesia.

"Kuncinya adalah di faktor fundamental. Kalau faktor defisit dan current account (transaksi berjalan) kita defisit maka itu yang nantinya akan menjawab bahwa depresiasi nilai tukar rupiah kita apakah temporary atau akan terus berlanjut ke depannya," ujar Direktur Eksekutif Indef Enny Sri Hartati, di Jakarta, Senin (13/8/2018).

Dominasi sektor konsumtif dibandingkan sektor produktif dalam pertumbuhan ekonomi kuartal II 2018 pun dianggap bakal terus berlangsung pada semester II 2018.

Enny pun sangsi target pertumbuhan ekonomi akhir 2018 bisa tercapai jika hal tersebut terus terjadi.

"Nah kalau itu enggak tercapai, maka itu akan jadi referensi capital inflow yang masuk. Nah capital inflow yang masuk itulah yang jadi indikator terjadi pelemahan rupiah atau tidak," sambung dia.

Di sisi lain, faktor politik seperti penentuan capres dan cawapres pekan lalu juga belum mampu berdampak positif bagi rupiah, kendati Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sehari setelah penentuan capres/cawapres naik beberapa persen.

Penguatan IHSG tersebut pun tak berjalan lama, sebab hari ini seiring dengan melemahnya rupiah terhadap dollar AS, IHSG justru anjlok.

"Kita ingat betul 5 tahun lalu, ketika pendeklarasian Jokowi ini juga rupiah bahkan IHSG langsung dari zona merah ke zona biru. Tetapi ternyata honeymoon-nya tidak lama. Kemudian hal yang sama ini bisa terjadi sekarang, sebaliknya pasar justru merespons negatif. Nah pertanyaannya adalah sekarang apakah ini temporary atau berlanjut?" pungkas dia.




Close Ads X