IHSG Diprediksi Masih Akan Melemah - Kompas.com

IHSG Diprediksi Masih Akan Melemah

Kompas.com - 14/08/2018, 05:43 WIB
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (19/2/2018). KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (19/2/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG) diprediksi masih akan mengalami penurunan dalam beberapa waktu ke depan.

Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee mengatakan, dalam pekan ini, pasar terus melakukan koreksi setelah sebelumnya IHSG naik cukup signifikan.

"Prediksi kami Agustus sampai September ini indeks bergerak turun ke bawah," ujar Hans kepada Kompas.com, Senin (13/8/2018).

IHSG diproyeksi terus turun hingga menyentuh angka 5.600-5.700.  Pada sesi pertama perdagangan hari ini, IHSG sudah anjlok 200,13 poin atau 3,29 persen hingga melorot ke level 5.877,04.

Baca juga: Pasar Khawatir Efek Domino Turki, IHSG Sesi I Ditutup Anjlok 200 Poin

Menurut Hans, kunci memulihkan IHSG yakni dengan terus menjaga nilai tukar rupiah. Jika terkendali dengan baik, maka koreksi pasar hanya terjadi sesaat dan IHSG kembali naik.

"Kalau misal global merespons negatif, kan bukan hanya masalah Indonesia tapi global, maka koreksinya akan agak panjang," kata Hans.

Menurut dia, respons global akan sangat mempengaruhi IHSG.

Hans mengatakan, current account deficit (CAD) Indonesia di kuartal II 2018 memang melebar menjadi 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Namun, CAD Turki jauh lebih lebar yakni sekitar 5,5 persen. Begitu pun dengan defisit anggaran pemerintah terhadap produk domestik bruto (PDB) atau government deficit to GDP Turki mencapai 6 persen, sedangkan Indonesia hanya 0,75 persen.

"Ini juga mempengaruhi pasar dan nilai tukar kita (rupiah)," kata Hans.

Krisis mata uang Lira di Turki dianggap salah satu penyebab IHSG ikut-ikutan merosot. Sebab, turunnya nilai Lira membuat pasar khawatir muncul efek domino karena menganggap investor asing akan meninggalkan emerging market, termasuk indonesia.

Dalam beberapa waktu terakhir, IHSG terus bergerak naik. Hal ini disebabkan laporan keuangan dan laba korporasi yang bagus, pertumbuhan ekonomi meningkat, dan inflasi yang terkendali. Namun, di penghujung pekan lalu diketahui bahwa cadangan devisa turun. Di sisi lain, pasar memang tengah melakukan koreksi sehingga mempengaruhi IHSG.

"Saya lihat minggu ini minggu koreksi di pasar, apalagi didukung oleh masalah lira," kata Hans.

Pada perdagangan kemarin  IHSG ditutup melorot 215,93 poin atau 3,55 persen pada 5.861,25.

Kompas TV Tiga Berita Terpopuler – 13 Agustus 2018



Close Ads X