Indonesia Kurang Siap Menghadapi Kemajuan Teknologi Penerbangan

Kompas.com - 15/08/2018, 12:19 WIB
Bisnis carter helikopter lewat bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta. Reska K. Nistanto/KOMPAS.comBisnis carter helikopter lewat bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta.

SEMASA kanak-kanak, ibu sering mengingatkan saya bila akan terlambat dengan menggunakan istilah, "Awas, jangan sampai ketinggalan kereta." Dalam hal ini, maksudnya adalah ketinggalan kereta api.

Sejak zaman baheula, sejak zaman VOC, sejak zaman pendudukan Belanda, sarana kereta api sebagai alat transportasi kelompok grass root terkenal dengan ketepatan waktunya.  

Belakangan digunakan istilah OTP atau on time performance. Sudah sejak lama sekali, kereta api dikenal sebagai alat transportasi dengan OTP prima, selalu berangkat tepat sesuai dengan jadwal keberangkatannya.

Kemarin siang, saya pergi ke Bandung menggunakan kereta api Argo Parahyangan yang jadwal keberangkatannya pukul 1130 WIB dari Stasiun KA Gambir. Sangat mengagumkan sekali karena kereta bergerak maju tepat saat jarum panjang melintas angka 12 pada pukul 11.30 WIB.

Para penumpang yang datang terlambat dipastikan akan "ketinggalan kereta".  Sebuah terminologi yang mencerminkan ketepatan waktu keberangkatan kereta api yang tidak berubah sejak zaman Belanda.

Sejak naik gerbong KA Argo Parahyangan hingga turun di stasiun Bandung kemarin itu, dan juga ketika pulang dari Bandung ke Jakarta siang hari tadi, saya sama sekali tidak berjumpa dengan kondektur yang datang menggangu "hanya" untuk memeriksa karcis.

Ini sebuah refleksi dari tingkat manajemen dan kepemimpinan dari jajaran pengelola kereta api kita.

Sementara itu, pada hari yang sama sebelumnya, Senin (13/8/2018), saya menerima banyak keluhan dari teman-teman yang berangkat menggunakan pesawat terbang--sarana transportasi yang jauh lebih modern dan berteknologi tinggi--dari Bandara Halim Perdanakusuma.

Suasana bandara yang kumuh, ribet, penuh sesak, ditambah lagi setiap menit pengumuman tentang keterlambatan pesawat baik yang datang maupun yang pergi sangat bertolak belakang dengan situasi di Stasiun Gambir yang sangat terkelola dengan apik tertib dan bersih.

Sebuah airport tampil dengan wajah yang sangat terbelakang dibanding dengan stasiun kereta api sungguh sulit untuk dipercaya. Seeing is believing, silakan lihat sendiri dan Anda akan percaya.

Halaman:
Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
komentar di artikel lainnya
Close Ads X