Indonesia Kurang Siap Menghadapi Kemajuan Teknologi Penerbangan

Kompas.com - 15/08/2018, 12:19 WIB
Bisnis carter helikopter lewat bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta. Reska K. Nistanto/KOMPAS.comBisnis carter helikopter lewat bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta.

Masih banyak lagi hal yang sulit dipercaya terjadi belakangan ini dalam dunia penerbangan kita. Saya hanya ingin menjawab banyak pertanyaan kepada saya tentang hal tersebut dengan jawaban sederhana, yaitu bahwa kita memang belum siap menghadapi kemajuan teknologi yang sangat pesat itu.

Konon belakangan ini kita mendengar bahwa semua maskapai penerbangan tengah merugi. Bila ditelusuri, alur terbunuhnya banyak maskapai penerbangan di Tanah Air sejak tahun 2000-an minimal memperlihatkan bahwa maskapai penerbangan memang tengah "merugi".

Disusul kemudian dengan "kebangkrutan" Merpati Nusantara Airlines (MNA) dan kabar tentang bertumpuknya utang maskapai penerbangan Garuda kebanggaan bangsa sebagai Sang Pembawa Bendera.

Satu per satu maskapai penerbangan rontok dan yang sedang beroperasi sekarang ini pun tengah merugi. Pada sisi lainnya, pesawat-pesawat terbang baru tetap berdatangan dengan konsisten sesuai jadwal proses pengadaan.

Bisa dibayangkan apa yang terjadi di tengah meruginya semua maskapai penerbangan, kedatangan pesawat baru justru tetap mengalir. Pertanyaan sederhana adalah, mau diparkir di mana pesawat-pesawat itu nanti?

Kondisi ini menjelaskan kepada kita semua bahwa memang kita belum siap menghadapi kemajuan teknologi, khususnya dalam bidang penerbangan.

Salah satu kunci dari kekeliruan terbesar dalam pengelolaan penerbangan di Tanah Air adalah ketidakkonsistenan kita pada regulasi, ketentuan, dan aturan yang berlaku.

Satu di antaranya yang dengan mudah dicek adalah ketaatan terhadap aturan jumlah jam terbang bagi para pilot dan "perebutan izin slot penerbangan" pada rute-rute gemuk. Contohnya pada kecelakaan pesawat terbang Air Asia rute Surabaya-Singapura di perairan laut Jawa, yang ternyata terbang tidak sesuai dengan jadwal hari yang diizinkan.

Di samping itu, tentu saja adalah tentang perencanaan strategis yang tidak pernah dibuat, terutama dalam hal menyikapi pertumbuhan penumpang yang cukup pesat.

Kelebihan jumlah penerbangan di Cengkareng yang dipindahkan begitu saja ke Lanud Halim dan bahkan kemudian dikembangkan lebih banyak lagi slot penerbangan di Halim.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X