Sektor Keuangan Dominasi Peningkatan Penerbitan Obligasi

Kompas.com - 18/08/2018, 19:11 WIB
Suasana di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (21/5/2018). KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNGSuasana di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (21/5/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Penerbitan surat utang atau obligasi oleh korporasi pada semester II 2018 diprediksi meningkat dengan didominasi oleh sektor keuangan.

Peningkatan penerbitan obligasi itu tak dapat dilepaskan dari faktor jumlah obligasi korporasi yang akan jatuh tempo pada Agustus-Desember 2018 sebesar Rp 26,3 triliun dengan Rp 20,7 triliun di antaranya datang dari sektor keuangan.

"Selain itu, sisa plafon penerbitan obligasi dengan skema Penawaran Umum Berkelanjutan atau PUB di sektor keuangan juga masih cukup besar sehingga meningkatkan potensi suplai obligasi dari industri keuangan," ujar Head of Debt Research Division PT Danareksa Sekuritas Amir A Dalimunthe, dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (18/8/2018).

Tak hanya itu, Amir juga memerkirakan emiten-emiten kelompok BUMN yang terkait dengan infrastruktur masih berpotensi masuk lagi ke pasar modal dengan merilis obligasi korporasi.

Jika mengacu pada data Bursa Efek Indonesia (BEI) per 31 Juli 2018, total emisi obligasi dan sukuk korporasi baru yang tercatat sepanjang 2018 mencapai 60 emisi dari 41 emiten dengan nilai menembus Rp 71,44 triliun.

Dengan demikian, total obligasi dan sukuk yang tercatat di BEI berjumlah 624 emisi dengan nilai nominal outstanding sebesar Rp 402 triliun dari penerbitan 112 emiten.

Di sisi lain, jumlah Surat Berharga Negara (SBN) tercatat di BEI mencapai 91 seri dengan nilai nominal Rp 2.224,71 triliun dan 200 juta dollar AS. Sementara Efek Beragun Aset (EBA) tercatat sebanyak 14 emisi senilai Rp 9,91 triliun.

Namun demikian, Amir meyakini bahwa pasar obligasi akan mendapatkan tekanan dari beberapa sentimen baik dalam maupun luar negeri.

"Di antaranya kebijakan suku bunga acuan Fed Funds Rate (FFR) dan suku bunga acuan Bank Indonesia. Sementara Bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve atau the Fed, pada rapat Federal Open Market Committee pada 31 Juli-1 Agustus lalu akhirnya mengumumkan mempertahankan kisaran target FFR tetap di level 1,75 persen hingga 2 persen," kata Amir.



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X