Sri Mulyani: Pertumbuhan Pembiayaan Utang Justru Jadi Negatif 9,7 Persen

Kompas.com - 20/08/2018, 13:10 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com -  Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut bahwa salah satu indikator melihat besaran utang pemerintah adalah dari pembiayaan APBN melalui utang.

"Bila tahun 2015 pertumbuhan pembiayaan utang adalah 49 persen, karena pemerintah melakukan pengamanan ekonomi dari tekanan jatuhnya harga minyak dan komoditas lainnya, tahun 2018 pertumbuhan pembiayaan utang justru jadi negatif 9,7 persen," kata Sri Mulyani melalui akun Facebook resminya, Senin (20/8/2018).

Hal itu disampaikan Sri Mulyani menanggapi Ketua MPR Zulkifli Hasan dalam sidang tahunan MPR Kamis (16/8/2018) lalu yang menyebut pembayaran pokok utang pemerintah yang jatuh tempo tahun ini tidak wajar.

Zulkifli juga mengungkapkan bahwa utang pemerintah yang jatuh tempo 7 kali lebih besar dari dana desa dan 6 kali lebih besar dari anggaran kesehatan.

Baca juga: Soal Cicilan Utang Rp 400 Triliun, Sri Mulyani Angkat Bicara

Indikator lain yang bisa dilihat adalah defisit APBN yang selalu dijaga di bawah 3 persen per PDB sesuai ketentuan dalam Undang-Undang Keuangan Negara. Defisit APBN terus dijaga sejak tahun 2015 sebesar 2,59 persen terhadap PDB, kemudian jadi 2,49 persen tahun 2016, dan 2,51 persen tahun 2017.

"Tahun 2018 diperkirakan 2,12 persen serta tahun 2019 sesuai pidato Presiden di DPR akan turun jadi 1,84 persen," tutur Sri Mulyani.

Selain itu, jika dilihat dari defisit keseimbangan primer, terus didorong menurun hingga ke arah surplus. Tahun 2015 defisit keseimbangan primer Rp 142,5 triliun dan turun jadi Rp 129,3 triliun tahun 2017.

"Tahun 2018 menurun lagi jadi defisit Rp 64,8 triliun berdasarkan outlook APBN 2018. Tahun 2019 direncanakan defisit keseimbangan primer turun lagi jadi hanya Rp 21,74 triliun dan itu menunjukkan kehati-hatian pemerintah dalam menjaga keuangan negara menghadapi situasi global yang sedang bergejolak," ucap Sri Mulyani.

Baca juga: Sri Mulyani: Pembayaran Utang Saat Ini adalah Kewajiban dari Sebelum Presiden Jokowi

Sri Mulyani turut menyinggung tentang capaian pemerintah melalui perbaikan rating jadi investment grade dari semua lembaga pemeringkat dunia sejak 2016.

Dia juga memastikan bahwa kemampuan APBN kini sudah meningkat lebih mandiri sebagai instrumen mencapai cita-cita bernegara.

"Jadi siapa yang lebih berkompeten menilai kebijakan fiskal dan utang pemerintah wajar atau tidak?" sebut Sri Mulyani.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.