Era Suku Bunga Tinggi, Bank Harus Cerdik Cari Dana Murah - Kompas.com

Era Suku Bunga Tinggi, Bank Harus Cerdik Cari Dana Murah

Kompas.com - 28/08/2018, 16:17 WIB
Ilustrasi rupiah.THINKSTOCKS/FITRIYANTOANDI Ilustrasi rupiah.

JAKARTA, KOMPAS.com - Dunia saat ini dalam tren kenaikan suku bunga, yang ditandai dengan kenaikan yang terjadi di sejumlah negara maju. Tren kenaikan suku bunga pun terjadi di Indonesia.

Bank Indonesia ( BI) menaikkan suku bunga acuan untuk mempertahankan daya tarik suku bunga bagi para investor di Indonesia. Sebelum berganti dengan BI 7-day Reverse Repo Rate pada 2016, suku bunga acuan BI atau BI rate naik 200 basis poin (bps) pada periode Juni 2013-Januari 2015 dengan posisi tertinggi di level 7,75 persen.

Kenaikan suku bunga memberikan tekanan ke bisnis perbankan terutama dari sisi pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) dan kredit, pun rasio kredit bermasalah (NPL).

Direktur PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk R Mahelan Prabantarikso menyebut, dengan tren kenaikan suku bunga yang terjadi, maka industri perbankan harus cerdik dalam mencari cara dan menyiapkan strategi bisnis.

“Era suku bunga tinggi mendorong bank untuk meningkatkan efisiensi sekaligus governance (tata kelola) agar tetap dapat mencetak keuntungan,” kata Mahelan dalam pernyataannya pada diskusi bertajuk Daya Tahan Perbankan Makin Rentan di Era Suku Bunga Tinggi, Selasa (28/8/2018).

Adapun Executive Director & CEO IPMI International Business School Jimmy Gani memandang, tingginya suku bunga kredit perbankan yang mencapai dua digit mendongkrak biaya produksi perusahaan sehingga akan menurunkan daya saing produk lokal di perdagangan internasional. 

"Tingginya suku bunga kredit membuat biaya pendanaan usaha juga meningkat. Sementara, suku bunga kredit yang ada saat ini sudah relatif tinggi dibandingkan dengan negara-negara lainnya," sebut dia.

Pada tahun 2018, daya tahan industri perbankan kembali diuji dengan rencana kenaikan suku bunga The Fed yang telah diantisipasi BI dengan menaikkan suku bunga acuan sebesar 125 bps sepanjang Mei-Agustus ke level 5,50 persen.

Dari sisi DPK, pertumbuhannya baru mencapai 6,99 persen dalam setahunan per Juni 2018. Kinerja perkreditan masih baik dengan pertumbuhan 11,10 persen dengan tingkat NPL 2,67 persen.


Dari sisi permodalan, industri perbankan masih sangat kuat dengan rasio kecukupan modal (CAR) di level 21,97 persen.


Komentar
Close Ads X