Reksa Dana Saham Masih Jadi favorit Investor

Kompas.com - 31/08/2018, 09:41 WIB
Ilustrasi pergerakan harga saham THINKSTOCKSIlustrasi pergerakan harga saham

JAKARTA, KOMPAS.com - Co-Founder Jagartha Advisors Ari Adil mengatakan, sejauh ini reksa dana pasar saham masih lebih digemari investor.

Sebagai konsultan investasi, Jagartha Advisor menilai reksa dana saham lebih tepat bagi investor yang memiliki kebutuhan jangka panjang.

"Kalau investor jangka panjang, mungkin mereka masih banyak menempatkannya di reksa dana saham," ujar Ari di Jakarta, Kamis (30/8/2018).

Untuk menekan risiko, Ari merekomendasikan agar saat masuk ke pasar saham dilakukan secara berkala. Investor jangan langsung sekaligus meningkatkan dana yang ada untuk beli reksa dana saham atau saham yang ingin dibeli.

"Diharapkan kita dapatkan harga rata-rata yang lebih menarik," kata Ari.

Meski begitu, Jagartha lebih merekomendasika klinnya agar memilih reksa dana kombinasi atau campuran.

Jadi gak hanya melulu saham.

"Mungkin bisa dikombinasikan dengan pasar uang, dengan pasar terproteksi, atau kalau ada small dana yang bia disisihkan untuk reksadana yang alternatif kita rekomendasikan seperti itu," kata Ari.

Sementara itu, menurut Co-Founder dan Chairman Bareksa.com Karaniya Dharmasaputra, investor yang menggunakan Bareksa untuk memilih reksa dana sebagian besar memilih long tail market. Karena peminatnya tinggi, maka kerja sama dengan e-commerce sebesar 60-70 persen berupa money market fund atau reksa dana dana pasar uang.

"Karena misi kami mau edukasi, banyak yang baru pertama kali investasi reksa dana di Bareksa ini," kata Karaniya.

"Kalau langsung mengenalkan ke reksa dana saham, pasti langsung 'sakit perut'," lanjut dia.

Oleh karena itu, Bareksa lebih memperkenalkan investor pada pasar uang yang risikonya kecil, hampir tidak ada sama sekali. Kemudian Bareksa baru-baru ini meluncurkan Bareksa Prioritas yang menyasar kalangan high net worth (HNW) dengan minimal aset 1 juta dollar AS.

"Dengan Bareksa Prioritas, pasti mereka ingin hire return dan yield. Dan produk-produk itu risikonya yang lebih tinggi. Biasanya saham atau campuran," kata Karaniya.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X