Menko Darmin: Pelemahan Rupiah Terus-menerus Bisa Picu Inflasi

Kompas.com - 31/08/2018, 16:05 WIB
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution usai melaksanakan sosialisasi pelaksanaan online single submission (OSS) di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Jumat (29/6/2018).KOMPAS.com / ANDRI DONNAL PUTERA Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution usai melaksanakan sosialisasi pelaksanaan online single submission (OSS) di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Jumat (29/6/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Darmin Nasution tak menampik bahwa pelemahan rupiah yang terus-menerus terjadi belakangan ini bakal memengaruhi inflasi dalam negeri.

Hal itu disampaikannya setelah pada hari ini rupiah kembali melemah ke level Rp 14.710 per dollar AS. Oleh karenanya, Darmin memprediksi, ke depan rupiah akan bergerak naik-turun lantaran bank sentral AS Federal Reserve yang bakal kembali menaikkan suku bunga acuan dua kali lagi hingga akhir 2018.

"Tapi arahnya mesti dia (The Fed) menaikkan (suku bunga acuan). Jadi dari 2018 ke 2019 itu arahnya bisa 1,5 persen, bisa naik lagi atau lebih sedikit," kata Darmin di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat (31/8/2018).

Darmin menambahkan, untuk merespon kondisi tersebut maka Bank Indonesia (BI) mau tak mau mesti menerapkan kebijakan pengetatan moneter.

"Itu berarti kita akan terkena dampaknya, sebagian di kurs, di tingkat suku bunga (bank), di inflasi. Mungkin juga lama-lama inflasi kita terpengaruh (nilai tukar nupiah) dari imported inflation," imbuh dia.

Namun demikian, sampai saat ini Darmin menyatakan bahwa pelemahan rupiah belum berdampak pada inflasi inti atau core inflation.

"Sejauh ini belum, artinya core inflation kita naik sedikit, tetapi (inflasi umum) masih di bawah 3,5 persen," sambungnya.

Sebagai informasi, tingkat inflasi pada Juli 2018 adalah 0,28 persen yang disumbang inflasi inti sebesar 0,41 persen, tertinggi sejak Februari 2017. Darmin mengakui adanya kenaikan inflasi inti, namun kenaikannya tak hanya disebabkan satu komponen.

"Sekarang ini ada kenaikan (inflasi inti) kalau dilihat dan diakumulasikan, misalnya di Agustus, tapi belum besar kenaikannya. Kapan kelihatan dampaknya (kurs rupiah ke inflasi)? Tidak tahu, susah menebaknya," tuntas dia.

Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
komentar di artikel lainnya
Close Ads X