Soal Investasi, Indonesia Dianggap Kurang Nasionalis Ketimbang Jepang - Kompas.com

Soal Investasi, Indonesia Dianggap Kurang Nasionalis Ketimbang Jepang

Kompas.com - 01/09/2018, 14:30 WIB
Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional Bambang Brodjonegoro di Istana, Senin (12/2/2018).KOMPAS.com/Ihsanuddin Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional Bambang Brodjonegoro di Istana, Senin (12/2/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro menganggap angka investor domestik saat ini masih rendah.

Sebagian besar pasar modal banyak dikendalikan oleh investor asing. Dalam hal investasi, kata Bambang, nasionalisme Indonesia ternyata masih rendah.

Bambang kemudian membandingkan dengan pasar modal di Jepang.

"Di Jepang, pemilikan surat berharga dalam yen, surat utang oleh asing hanya 9 persen," ujar Bambang, di Jakarta, Jumat (31/8/2018).

Padahal, rasio utang Jepang sekitar 200 persen terhadap GDP, jauh di atas Indonesia yang 30 persen terhadap GDP.

Dengan demikian, bisa jadi justifikasi bahwa Indonesia masih lebih aman.

Namun, di Indonesia, 40 persen surat berharga rupiah dimiliki oleh asing. Berbeda dengan Jepang yang meski besar jumlah surat utangnya, tetapi mereka menguasai sekitar 91 persennya.

"Jadi kalau ada gejolak di dunia, mereka tenang-tenang saja karena 91 persen dimiliki orang Jepang," kata Bambang.

"Mereka tak hanya nasionalis pada produk mereka sendiri, tapi juga nasionalis surat berharganya. Sangat care mengenai pembiayaan pemerintah," lanjut dia.

Penguasaan surat utang di Indonesia oleh asing, jika dilihat kembali, ada berbagai kepentingan oleh mereka.

Pertama, ada yang memang berniat berinvestasi jangka panjang. Namun, ada pula investor jangka pendek yang cuma mencari yield.

Dengan demikian, jika pasar bergejolak, maka akan berpengaruh pada pelemahan mata uang rupiah.

"Maka perbedaan utama jepang dan indonesia selain literasi investasi di Jepang yang luar biasa, tapi yang paling penting di atas literasinya adalah nasionalismennya," kata Bambang.

"Kalau punya nasionalisme investasi, maka stabilitas makro di pasar modal akan lebih terbantu," lanjut dia.

Bambang juga mendorong Otoritas Jasa Keuangan untuk menyentuh aspek nasionalisme dalam sosialisasi soal investasi.

Jika menggunakan pendekatan logika untuk berinvestasi sulit karena orang mencari yang paling aman untukmenyimpan uangnya, yakni dengan deposito.


"Kalau sedikit didorong nasionalisme investasi barangkali bisa jadi suatu gerakan nasional," kata Bambang.

Kompas TV Di hadapan siswa Taruna Nusantara, presiden mengingatkan agar mereka harus terus berusaha dan tidak bermalas-malasan.

Komentar
Close Ads X