5 Negara yang Paling Terdampak Jatuhnya Mata Uang Negara Berkembang

Kompas.com - 01/09/2018, 20:02 WIB
Warga berjalan melewati papan informasi terkait nilai tukar uang Lira di Istanbul, Turki, 13 Agustus 2018. Dirundung krisis ekonomi, nilai tukar mata uang Turki lira merosot tajam. Hingga Jumat (10/8/2018) lalu, posisi lira anjlok 15,88 persen ke level 6,4323 per dollar Amerika Serikat (AS). AFP PHOTOWarga berjalan melewati papan informasi terkait nilai tukar uang Lira di Istanbul, Turki, 13 Agustus 2018. Dirundung krisis ekonomi, nilai tukar mata uang Turki lira merosot tajam. Hingga Jumat (10/8/2018) lalu, posisi lira anjlok 15,88 persen ke level 6,4323 per dollar Amerika Serikat (AS).

HONG KONG, KOMPAS.com — Keadaan ekonomi makin sering bergejolak tahun ini. Mata uang beberapa negara runtuh di bawah tekanan dari berbagai kekuatan termasuk kenaikan suku bunga Amerika Serikat, bentrokan politik, dan perang perdagangan global.

Tekanan telah mengungkap kelemahan di beberapa pasar negara berkembang, terutama ketergantungan pada pendanaan dari investor asing yang lebih cenderung menarik uang mereka ketika mata uang lokal jatuh nilainya.

Baca juga: Tak Hanya Rupiah, Mata Uang Negara-negara Ini Juga Anjlok

Kekhawatiran tentang Argentina dan Turki telah mendorong investor yang masih ragu untuk mundur dari pasar ekonomi lain yang dipandang rentan. Pada hari Jumat (31/8/2018), mata uang Indonesia pun jatuh ke level terendah terhadap dolar AS sejak krisis keuangan Asia 20 tahun lalu.

Dikutip dari CNN Money, inilah 5 negara selain Indonesia yang paling merasakan dampaknya.


1. Turki

Mata uang Turki telah jatuh karena campuran kekuatan politik konfrontatif, kebingungan kebijakan ekonomi, dan kenaikan suku bunga AS. Lira telah jatuh lebih dari 40 persen terhadap dollar AS sejak Januari 2018.

Banyak perusahaan Turki telah berusaha untuk menurunkan biaya pinjaman mereka dalam beberapa tahun terakhir dengan mengambil pinjaman dalam mata uang asing. Para pengamat khawatir mereka saat ini bisa jatuh karena pinjaman tersebut tapi pelanggan membayar mereka dengan lira.

Presiden Recip Tayyip Erdogan telah membuat investor terkesima dengan menolak seruan kenaikan suku bunga untuk mencoba mengendalikan inflasi yang merajalela.

Analis mengatakan kerusakan sudah muncul dalam data ekonomi. Kemerosotan lira telah menyebabkan orang-orang Turki dan perusahaan merasa lebih buruk, memukul pengeluaran konsumen, dan kepercayaan bisnis.

"Tidak jauh dari kenyataan bahwa ekonomi Turki mengalami kemerosotan yang mendalam," ujar ekonom senior emerging market di perusahaan riset Capital Economics Jason Tuvey yang dilansir dari CNN Money.

2. Argentina

Peso Argentina memiliki lebih dari separuh nilai terhadap dollar AS sejak awal tahun ini.

Ketika mata uang itu menukik jatuh lagi minggu ini, pemerintah meminta Dana Moneter Internasional (IMF) untuk mempercepat pembayaran dari kesepakatan 50 miliar dollar AS yang dibentuk awal tahun ini.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X