BPS: Waspadai Harga Pangan... - Kompas.com

BPS: Waspadai Harga Pangan...

Kompas.com - 03/09/2018, 12:39 WIB
Buruh menurunkan beras Bulog di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta Timur, Rabu (26/7/2017). Penetapan Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk komoditas beras memberikan pengaruh yang besar kepada para petani dan pedagang sehingga menyebabkan pasokan beras ke pasar induk anjlok.KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG Buruh menurunkan beras Bulog di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta Timur, Rabu (26/7/2017). Penetapan Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk komoditas beras memberikan pengaruh yang besar kepada para petani dan pedagang sehingga menyebabkan pasokan beras ke pasar induk anjlok.

JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Badan Pusat Statistik ( BPS) Suhariyanto mengungkapkan pemerintah perlu mewaspadai komponen harga bergejolak dalam rangka menjaga tingkat inflasi untuk tahun ini.

Kewaspadaan itu diperlukan lantaran meski data terakhir menampilkan tingkat inflasi tahun ke tahun per Agustus bagus, ada potensi peningkatan dari komponen harga bergejolak atau volatile prices.

"Kita perlu hati-hati, inflasi untuk volatile price-nya 4,97 persen. Lebih waspada ke depan untuk menjaga harga pangan tidak bergejolak sehingga inflasi tetap terkendali sampai Desember 2018," kata Suhariyanto melalui konferensi pers di kantornya, Senin (3/9/2018).

Suhariyanto memaparkan, bulan Agustus 2018 terjadi deflasi 0,05 persen yang didorong oleh turunnya harga bahan pangan serta tarif transportasi angkutan udara. Kelompok pengeluaran bahan makanan seperti beras disebut sangat penting untuk dijaga karena jika ada kenaikan sedikit saja, akan berpengaruh besar terhadap tingkat inflasi.

Baca juga: Mendag Pastikan Impor Beras Tahun Ini Hanya 2 Juta Ton

"Beras perlu perhatian khusus. Biasanya masuk Oktober itu masuk musim tanam, tidak habis tapi jumlah stok lebih kecil. Belajar dari tahun lalu, itu jadi salah satu penyebab (inflasi)," tutur Suhariyanto.


Upaya pemerintah dalam menjaga stok beras hingga akhir tahun ini salah satunya melalui impor beras dengan total 2 juta ton. Impor beras itu dilakukan bertahap, dengan dua kali impor sejumlah masing-masing 500.000 ton serta satu kali impor 1 juta ton.

Impor beras 2 juta ton dilaksanakan berdasarkan keputusan rapat koordinasi di bawah pimpinan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution. Pelaksana impornya diserahkan kepada Perum Bulog di mana sebelumnya turut dilakukan penilaian berapa permintaan dan penawaran serta perkiraan stok beras yang aman sepanjang untuk tahun ini.

Komentar
Close Ads X