Dollar AS Dekati Rp 15.000, Sri Mulyani Sebut Indonesia Beda dengan Negara Berkembang Lain

Kompas.com - 04/09/2018, 15:16 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati usai rapat di gedung DPR RI, Selasa (10/7/2018). KOMPAS.com / ANDRI DONNAL PUTERAMenteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati usai rapat di gedung DPR RI, Selasa (10/7/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menegaskan Indonesia memiliki perbedaan dengan negara-negara berkembang lain yang sama-sama terdampak normalisasi perekonomian di Amerika Serikat, terutama dalam hal menguatnya dollar AS terhadap seluruh mata uang negara lain.

Hal itu diungkapkan untuk menanggapi nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dollar AS dan hampir menyentuh level Rp 15.000 per dollar AS.

"Kalau yang sifatnya pergerakan terutama dari para fund manager, mereka melakukan rebalancing dari portofolio mereka akibat kenaikan suku bunga di AS, pengetatan likuiditas, krisis di beberapa negara emerging, yang kami lakukan adalah menyampaikan Indonesia memiliki struktur ekonomi yang berbeda dengan negara emerging lain, baik dari kebijakan fiskal kita yang lebih hati-hati," kata Sri Mulyani usai rapat paripurna di DPR RI, Selasa (4/9/2018).

Sri Mulyani mengungkapkan, meski diterpa gejolak perekonomian global, Indonesia telah menerapkan prinsip kehati-hatian dalam mengelola fiskal dan moneter. Beberapa indikator yang memperlihatkan kehati-hatian tersebut di antaranya defisit APBN yang didesain di bawah 2 persen serta keseimbangan primer yang mendekati nol dalam RAPBN 2019.

Baca juga: Rupiah Melemah, Sejumlah Anggota DPR Protes ke Sri Mulyani

"Kami berharap, dengan kehati-hatian ini, Indonesia akan dibedakan dari emerging countries lain yang fundamental ekonominya lebih rapuh dan kebijakan ekonominya tidak mencerminkan pondasi mereka," tutur Sri Mulyani.

Lembaga pemeringkat internasional, terbaru dari Fitch Ratings, juga menegaskan bahwa Indonesia memiliki ketahanan ekonomi dalam menghadapi dinamika perekonomian global. Ketahanan yang dimiliki Indonesia merupakan hasil dari disiplin kebijakan fiskal dan langkah makroprudensial, didukung dengan beban utang yang rendah serta pertumbuhan ekonomi pada level yang baik.

Baca juga: Orang-orang Kaya yang Mengaku Hidupnya Makin Sulit

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X