Akankah Indonesia Terus Bertahan dengan Bahan Bakar Fosil?

Kompas.com - 06/09/2018, 10:45 WIB
Macet akibat reklame kendaraan menuju Pintu Tol Pasteur, Bandung, Jawa Barat, terjebak kemacetan hingga 7 kilometer, Kamis (24/4/2014). Kemacetan yang terjadi mulai dari pagi hingga sore itu akibat pembongkaran reklame oleh Pemerintah Kota Bandung yang dikerjakan bertepatan dengan jam sibuk. Akibatnya, lalu lintas di sekitar Pasteur terganggu dan menimbulkan kemacetan berjam-jam.

Kompas/Rony Ariyanto Nugroho (RON)
24 April 2014

DIMUAT 25/4/14 HAL 22 *** Local Caption *** Macet Akibat Pembongkaran Reklame - Kendaraan menuju pintu tol Pasteur, Bandung, Jawa Barat, terjebak kemacetan hingga 7 kilometer, Kamis (24/4). Kemacetan yang terjadi sejak pagi hingga sore ini akibat pengerjaan pembongkaran reklame oleh Pemerintah Kota Bandung yang dikerjakan bertepatan dengan jam sibuk warga. Akibatnya lalulintas di sekitar Pasteur pun terganggu dan menimbulkan kemacetan hingga berjam-jam. 

Kompas/Rony Ariyanto Nugroho (RON)
24 April 2014
KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO Macet akibat reklame kendaraan menuju Pintu Tol Pasteur, Bandung, Jawa Barat, terjebak kemacetan hingga 7 kilometer, Kamis (24/4/2014). Kemacetan yang terjadi mulai dari pagi hingga sore itu akibat pembongkaran reklame oleh Pemerintah Kota Bandung yang dikerjakan bertepatan dengan jam sibuk. Akibatnya, lalu lintas di sekitar Pasteur terganggu dan menimbulkan kemacetan berjam-jam. Kompas/Rony Ariyanto Nugroho (RON) 24 April 2014 DIMUAT 25/4/14 HAL 22 *** Local Caption *** Macet Akibat Pembongkaran Reklame - Kendaraan menuju pintu tol Pasteur, Bandung, Jawa Barat, terjebak kemacetan hingga 7 kilometer, Kamis (24/4). Kemacetan yang terjadi sejak pagi hingga sore ini akibat pengerjaan pembongkaran reklame oleh Pemerintah Kota Bandung yang dikerjakan bertepatan dengan jam sibuk warga. Akibatnya lalulintas di sekitar Pasteur pun terganggu dan menimbulkan kemacetan hingga berjam-jam. Kompas/Rony Ariyanto Nugroho (RON) 24 April 2014

"KOTA ini sungguh padat." Itulah hal pertama yang ada di benak saya saat kali pertama menginjakkan kaki di Kota Bandung.

Setiap sore saya harus melihat jalan raya dipenuhi dengan kemacetan kendaraan bermotor. Apalagi saat weekend, jalan semakin padat oleh kerumunan banyak orang.

Wajar saja padat. Kota yang hanya seluas 167,31 km2 ini dihuni oleh hampir 2,5 juta penduduk. Saya membayangkan, berapa banyak energi listrik yang dihabiskan oleh penduduk Bandung setiap hari atau kota-kota besar lain, khususnya di Pulau Jawa yang kebutuhan listriknya lebih besar dibanding pulau lain.

Menurut data World Bank, tingkat konsumsi listrik di Indonesia berkisar 812 kWh per kapita. Jumlah ini lebih tinggi dibandingkan dengan India dan diprediksikan akan terus meningkat setiap tahun.

Ambisi pemerintah untuk meningkatkan rasio elektrifikasi sampai 99 persen pada 2019 juga turut mendukung peningkatan kebutuhan energi listrik Indonesia.

Jumlah penduduk yang terus bertambah dan pertumbuhan ekonomi yang meningkat tentunya sejalan dengan kebutuhan energi Indonesia. Tak heran jika Indonesia disebut sebagai konsumen energi terbesar se-Asia Tenggara.

Apakah Indonesia mampu mencukupi semua kebutuhan energi nasionalnya dengan pasokan sumber daya energi domestik yang tersedia di masa depan?

Peningkatan aktivitas ekonomi industri dan pesatnya pertumbuhan populasi di Indonesia terus mendorong kenaikan kebutuhan energi, sedangkan jumlah pasokan energi semakin terbatas.

Pada saat inilah, ketergantungan antarnegara dalam rangka pengamanan sektor energi menjadi hal yang sangat krusial.

Dalam dekade terakhir, telah terjadi pergeseran dalam perdagangan komoditas energi Indonesia, misalnya minyak bumi.

Dalam sejarahnya, Indonesia dikenal sebagai salah satu negara pengekspor minyak bumi terbesar dan pernah masuk dalam keanggotaan OPEC.

Indonesia telah banyak memperoleh keuntungan dari kekayaan minyak bumi yang diekspor. Namun, sejak 2004 kondisi telah berbeda, Indonesia telah menjadi negara net importer minyak bumi. Jumlah minyak bumi yang dibeli Indonesia lebih tinggi daripada yang dijual.

Hal ini menyebabkan Indonesia sangat bergantung pada minyak bumi dari negara lain, seperti Korea, Singapura, Malaysia, dan Kuwait untuk mencukupi kebutuhan domestiknya.

Saat ini, hampir 30 persen kebutuhan energi domestik Indonesia berasal dari minyak bumi impor dan diprediksi akan terus meningkat. Tentunya hal ini akan mengganggu kestabilan perekonomian Indonesia.

Akankah Indonesia terus bergantung dengan minyak bumi dari negara lain dalam rangka pengamanan sektor energi?

Atau, menggunakan energi lebih efisien lagi dengan cara mencabut subsidi energi atau mungkin mengembangkan sumber energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan dan berpotensi besar di Tanah Air?

Menurut data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, potensi energi terbarukan diperkirakan mencapai 441,7 GW, tetapi yang masih terealisasi sampai saat ini sebesar 9,07 GW atau 2 persen dari total.

Dengan potensi energi sebesar ini, maka kebutuhan listrik Indonesia yang sebesar 115 GW pada 2025 pasti akan tercukupi.

Batubara juga merupakan salah satu komoditas energi yang banyak tersedia di Indonesia. Produksi batubara Indonesia terus meningkat dan tidak hanya digunakan untuk kebutuhan domestik, tetapi juga memenuhi permintaan luar negeri.

Sampai tahun 2015, produksi batubara Indonesia telah mencapai 127 miliar ton dan lebih dari 75 persen produksi tersebut diekspor ke luar negeri, padahal cadangan batubara Indonesia hanya 3,1 persen dari total cadangan batubara dunia.

Prospek bisnis batubara yang diperkirakan semakin membaik mungkin bisa dijadikan sebagai alasan Indonesia untuk terus mengekspor batubaranya. Bahkan pada tahun 2015, Indonesia tercatat sebagai produsen batubara terbesar ketiga setelah China dan AS.

Posisi strategis Indonesia yang berada pada titik persinggungan antara kawasan Asia dan Pasifik secara alamiah menjadikan Indonesia sebagai jembatan atau penghubung antara kedua wilayah ini.

Hampir sebagian besar ekspor batubara Indonesia ditujukan ke negara-negara Asia Pasifik yang di antaranya merupakan negara-negara importir utama batu bara, yakni China dan India.

Negara-negara di kawasan Asia Pasifik yang merupakan konsumer utama batubara global memang membuka peluang bagi Indonesia, yang memiliki modal cadangan batubara mentah yang tinggi.

Pertumbuhan ekonomi, urbanisasi, perkembangan pasar di sekitar kawasan Asia Pasifik membuat permintaan akan batubara tetap stabil.

Masih banyak negara di Asia Pasifik yang masih menggantungkan sektor industri besi dan bajanya pada pasokan produk batubara olahan.

Sumber daya batubara yang masih melimpah dan harga relatif murah menjadikan komoditas ini sebagai pilihan untuk memenuhi kebutuhan energi.

Batubara Indonesia memang masih digunakan sebagai sumber penghasil devisa negara dan belum sebagai modal pembangunan.

Namun, saat ini pemerintah sudah mulai melakukan inisiasi untuk memperlambat ekspor batubara dan mengutamakan produksi batubara untuk kebutuhan domestik saja terutama sebagai bahan baku pembangkit listrik.

Pemerintah Indonesia berjanji membangun 35 GW kapasitas pembangkit listrik dalam rangka peningkatan rasio elektrifikasi 100 persen tahun 2020 dan 20 GW di antaranya berasal dari bahan bakar batubara.

Indonesia juga merupakan produsen penting gas, khususnya gas alam. Produk nasional gas alam Indonesia mencapai 78,8 milliar meter kubik (bcm) dan merupakan salah satu produser gas alam terbesar di Asia Tenggara.

Komoditas ini merupakan komoditas ekspor terbesar kedua setelah batubara, tetapi beberapa tahun terakhir jumlah produksinya mengalami penurunan, sehingga pemerintah berupaya membatasi jumlah ekspornya.

Indonesia memang memiliki peluang besar sebagai pengekspor batu bara maupun gas alam untuk menambah devisa negara.

Namun, apakah dengan menjadi sebuah negara pengekspor besar bahan bakar fosil akan tetap berkelanjutan di masa depan?

Menurut data energi dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Indonesia diproyeksikan akan menjadi negara net importer gas alam pada tahun 2024 dan batubara pada 2049 apabila produksinya tetap tinggi dan belum ada temuan baru.

Menjaga ketahanan energi Indonesia merupakan suatu prioritas yang sangat penting. Kebutuhan energi Indonesia ke depan pasti akan terus meningkat dan pembangunan pembangkit listrik juga pasti terus berkembang guna pemerataan akses listrik sampai ke pelosok Indonesia.

Energi terbarukan memiliki potensi besar di Indonesia namun perkembangannya masih sangat minim. Indonesia tak harus khawatir menjadi negara net importer karena energi terbarukan tak memerlukan bahan bakar, hanya memanfaatkan kekayaan alam yang sudah tersedia secara alami seperti angin, cahaya matahari, gelombang laut dan panas bumi.

Sudah saatnya pemerintah mendorong diversifikasi dan konservasi energi secara dini guna menjaga keamanan energi Indonesia di masa depan.

Halaman:



Close Ads X