Gubernur BI Apresiasi Pengusaha yang Tukarkan Devisa Hasil Ekspor ke Rupiah

Kompas.com - 07/09/2018, 19:30 WIB
Petugas menghitung Dollar AS di Kantor Cabang Plaza Mandiri, Jakarta, Jumat (3/8/2018). Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), nilai tukar rupiah pada Jumat (3/8/2018) sebesar Rp 14.503 per dollar AS. Pelemahan rupiah masih terus terjadi.

KOMPAS/PRIYOMBODO (PRI)
03-08-2018 KOMPAS/PRIYOMBODOPetugas menghitung Dollar AS di Kantor Cabang Plaza Mandiri, Jakarta, Jumat (3/8/2018). Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), nilai tukar rupiah pada Jumat (3/8/2018) sebesar Rp 14.503 per dollar AS. Pelemahan rupiah masih terus terjadi. KOMPAS/PRIYOMBODO (PRI) 03-08-2018

JAKARTA, KOMPAS.com - Pergerakan rupiah yang kian jinak terhadap dollar AS mendorong Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengapresiasi pengusaha yang mengonversi devisa hasil ekspor mereka yang berupa dollar AS menjadi rupiah.

Dalam dua hari ini nilai tukar rupiah terhadap dollar AS cenderung menguat setelah sebelumnya hampir menyentuh level Rp 15.000 per dollar AS.

Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), hari Selasa, (7/9/2018) ini nilai tukar rupiah terhadap dollar AS sebesar Rp 14.884.

Padahal dalam dua hari sebelumnya, secara berturut-turut nilai tukar rupiah terhadap dollar AS sebesar Rp 14.927 di hari Rabu (5/9/2018), dan Rp 14.891 di hari Kamis (6/9/2018).

"Saya apresiasi para pengusaha yang mempunyai devisa khususnya valas yang menjual valas dan itu menambah suplai di valas, sehingga dua hari supply dan demand terus berlangsung dan itu bagian penting mengenai pergerakan nilai tukar yang stabil dan dalam hal ini menguat," jelas Perry selepas Sholat Jumat di Masjid BI, Jumat (7/9/2018).

Lebih lanjut Perry menjelaskan sebelumnya pengusaha enggan untuk menjual devisa valas mereka lantaran adanya ketegangan perdagangan AS dan China, sekaligus Turki yang menimbulkan ketidakstabilan global.

Selain itu, investor yang sebelumnya masuk ke Indonesia kembali keluar, sehingga rupiah mendapatkan tekanan sepanjang hari Kamis, (30/8/2018) hingga Senin (3/9/2018).

"Dalam pasar yang mendapatkan tekanan, tempo hari saya sampaikan ada kecenderungan yang menahan devisa," jelas dia.

Menurut dia dengan berbagai langkah yang yang telah dilakukan oleh pemerintah membuat suplai dollar AS yang belum sempat masuk beberapa waktu lalu mulai kembali ke pasar valuta asing.

Kemudian, pengusaha yang membutuhkan devisa melihat kondisi rupiah membaik sehingga tidak terus menerus menggunakan dollar AS dalam transaksi mereka.

"Suplai yang tempo hari belum amsuk, mulai kemarin masuk dan yang kemudian membutuhkan devisa melihat rupiah semakin baik jadi tidak harus nubruk-nubruk dollar. Sehingga semakin lama semakin bekerja, suply dan demand nya bekerja. Jadi faktor-faktor tersebut yang membuat nilai tukar stabil," jelas dia.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X