Cerita Pelari Kenya yang Jadikan Lomba sebagai Pendapatan Utama - Kompas.com

Cerita Pelari Kenya yang Jadikan Lomba sebagai Pendapatan Utama

Kompas.com - 11/09/2018, 08:00 WIB
Cosmas Kyeva, salah satu peserta Full Marathon dalam Bali Marathon di Gianyar, Bali, Minggu (9/9/2018). Kyeva menceritakan tentang pelari Kenya yang menjadikan lomba lari untuk mendapat hadiah sebagai pendapatan utama mereka.KOMPAS.com / ANDRI DONNAL PUTERA Cosmas Kyeva, salah satu peserta Full Marathon dalam Bali Marathon di Gianyar, Bali, Minggu (9/9/2018). Kyeva menceritakan tentang pelari Kenya yang menjadikan lomba lari untuk mendapat hadiah sebagai pendapatan utama mereka.

GIANYAR, KOMPAS.com - Hampir seluruh pelari asal Kenya yang ikut dalam Bali Marathon 2018 menceritakan bahwa mereka menjadikan ajang tersebut untuk mendapatkan hadiah uang.

Tidak hanya di Indonesia, mereka secara konsisten mendaftarkan diri di lomba-lomba lari berbagai negara dengan target meraih juara agar mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Salah satu pelari Kenya, Cosmas Kyeva mengungkapkan dia sengaja datang sendiri ikut Bali Marathon 2018. Tahun lalu, dirinya juga sudah ikut ajang yang sama. Dia mengincar hadiah di kategori Full Marathon, di mana juara pertama berhak atas Rp 189 juta, juara dua sebesar Rp 136,5 juta, serta juara ketiga mendapat Rp 89,25 juta.

"Orang-orang Kenya terbiasa seperti ini. Dalam setahun, kami cari beberapa lomba lari dan ini masing-masing. Saya enggak kenal sama orang Kenya lain yang ikut marathon Bali ini," kata Kyeva kepada Kompas.com setelah menyelesaikan Full Marathon pada Minggu (9/9/2018).

Kyeva menuturkan, dalam setahun dia bisa mendaftarkan diri mengikuti sekitar tiga hingga empat lomba lari.

Jika bisa memenangi setiap lomba atau bahkan meraih posisi tiga besar, pendapatannya dari lari saja bisa puluhan ribu dollar AS dalam setahun.

Untuk menjalani profesi penuh sebagai pelari profesional, Kyeva mengakui proses yang dilalui tidak mudah. Dia harus membiasakan diri untuk berlatih setiap hari guna mempersiapkan diri mengikuti lomba-lomba lari yang telah dia daftar dalam setahun.

"Sehari latihannya bisa dua kali lari, sekali lari 25 kilometer," tutur Kyeva.

Risiko dari profesinya adalah ketika kalah dalam lomba. Seperti yang dialami saat Bali Marathon pekan, karena ternyata catatan waktu menunjukkan dia menempati posisi ke lima dan penyelenggara hanya memberi hadiah bagi juara untuk posisi tiga besar.

Kebiasaan pelari Kenya yang mengandalkan pendapatannya dari lomba lari ditegaskan oleh juara pertama Full Marathon Open Male di Bali Marathon 2018, Cosmas Matolo Muteti.

Muteti menyebut, uang Rp 189 juta yang dia dapat akan digunakan untuk mendaftarkan diri ke ajang lari berikutnya dengan hadiah yang jauh lebih besar.

"Sebagian mau ditabung, sebagian lagi buat daftar lomba lari lain," ujar Muteti.

Dari catatan panitia Bali Marathon, sejak 2012 ketika lomba tersebut pertama kali diadakan, juara Full Marathon Open memang selalu diraih oleh pelari asal Kenya. Namun, beberapa kali pelari dari negara lain seperti Kanada dan Ethiopia juga berhasil masuk dalam tataran tiga besar juara.



Close Ads X