Jika Tekanan Eksternal Berlanjut, Mata Uang Negara Berkembang Tetap Melemah

Kompas.com - 12/09/2018, 11:56 WIB
Ilustrasi rupiah Thinkstockphotos.comIlustrasi rupiah

JAKARTA, KOMPAS.com - Tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS masih terus berlanjut dan jadi perhatian para investor dalam beberapa waktu belakangan ini.

Penyebab utama berupa tekanan eksternal dinilai masih jadi faktor utama nilai tukar rupiah melemah. Begitupun dengan nilai tukar mata uang negara berkembang lain.

"Rupiah akan dipengaruhi oleh pandangan investor mengenai pasar berkembang secara umum, dengan perhatian khusus pada reaksi lira terhadap data PDB (Produk Domestik Bruto) terbaru Turki dan ancaman tarif dagang lebih lanjut dari Presiden AS Donald Trump," kata Research Analyst dari ForexTime (FXTM) Lukman Otunuga melalui keterangan tertulis kepada Kompas.com, Rabu (12/9/2018).

Lukman mengungkapkan, berdasarkan indikasi perdagangan di Asia awal pekan ini, didapati rupee India dan rand Afrika Selatan melemah terhadap dollar AS. Hal tersebut menandakan sentimen beli terhadap mata uang pasar negara berkembang yang memiliki defisit neraca tinggi tetap masih rendah.

"Dari aspek teknis, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS dapat mencapai Rp 14.900 untuk jangka pendek apabila dollar AS terus menguat," tutur Lukman.

Adapun hal lain yang turut diwaspadai para investor masih seputar perang dagang, di mana baru-baru ini Trump melipatgandakan ancaman pemberlakuan tarif kepada China pekan lalu. Trump mengancam memberlakukan tarif tambahan pada barang dari China senilai 267 miliar dollar AS.

"Kekhawatiran akan terjadi perang dagang besar-besaran antara dua negara dengan ekonomi terbesar dunia dapat memicu penghindaran risiko, menghantam saham global dan negara berkembang," ujar Lukman.

Dari hal-hal tersebut, Lukman menekankan nilai tukar mata uang negara-negara berkembang akan tetap melemah seiring dengan ketegangan perdagangan di tataran global.

Selain itu, faktor lain yang mendorong pelemahan nilai tukar di negara berkembang juga dari penguatan dollar AS dan perkiraan kenaikan suku bunga Fed Fund Rate.

"Prospek mata uang pasar negara berkembang tetap cenderung menurun untuk jangka pendek, terutama mata uang negara yang memiliki defisit transaksi berjalan yang besar," ucap Lukman.

Berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) hari ini, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS hari ini ada pada level Rp 14.863.

Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada sepekan terakhir bergerak di kisaran Rp 14.800 hingga Rp 14.900, dengan pelemahan paling dalam terjadi pada 5 September 2018 lalu yakni Rp 14.927 per dollar AS.



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X