Rhenald Kasali: Saya Ilmuwan, Diajak Bicara Dollar AS Saja Tidak Berani

Kompas.com - 12/09/2018, 19:20 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Rhenald Kasali menyebut banyak pihak yang memahami fenomena pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS sepotong-sepotong atau tidak utuh. Hal itu akan membuat orang menjadi cemas, terlebih jika ada pihak-pihak tertentu yang sengaja memanfaatkan hal tersebut untuk kepentingan tertentu.

"Saya adalah seorang ilmuwan di Fakultas Ekonomi. Saya diundang media untuk berbicara dollar AS saja saya tidak berani. Saya ahli bisnis melihat hanya sepotong, dari satu aspek. Saya tidak mengerti kalau ada orang yang merasa ahli segala-galanya," kata Rhenald kepada Kompas.com saat ditemui di Jakarta Convention Center, Rabu (12/9/2018).

Rhenald menjelaskan, untuk memahami tentang dollar AS dan pengaruhnya ke mata uang negara lain, harus dilihat secara komprehensif dari berbagai sudut pandang. Tidak bisa dari satu atau dua sudut pandang saja, misalkan dari kacamata moneter dan fiskal, namun juga harus lihat dari sudut pandang sektor perdagangan, perubahan teknologi, hingga bidang lain seperti hubungan antarnegara dan sebagainya.

Menurut Rhenald, dirinya mendapati banyak orang yang merasa sudah paham tentang pelemahan nilai tukar dan hanya memahami dari sudut pandang tertentu saja, kemudian langsung membuat kesimpulan. Hal itu membuat masyarakat jadi lebih khawatir, tanpa tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi di tataran global.

Baca juga: Cara Rini Mengatur BUMN untuk Dukung Rupiah

"Bayangkan kalau masyarakat hanya melihat dollar dari kacamata Indonesia saja, terjadi depresiasi, dikaitkan lagi dengan psikologi tahun 1998, kita keliru," tutur Rhenald.

Jika dibandingkan dengan negara berkembang lain, Rhenald menyebut Indonesia termasuk negara yang tahan terhadap ketidakpastian global, terutama dalam hal pelemahan nilai tukar.

Dia pun mengajak agar masyarakat yang mengikuti isu tersebut lebih banyak mencari referensi terkait dan dari sumber yang terpercaya, serta tidak mudah membuat kesimpulan berdasarkan sumber yang minim.

"Ini terjadi di seluruh dunia, dan Indonesia salah satu negara yang dampaknya kecil dibandingkan di negara-negara lain. Ini penyebabnya AS melakukan kebijakan, sehingga dollar-nya pulang kampung. Sama seperti Lebaran kemarin, pembantu kita pulang kampung, kita harus bayar (pembantu) infal yang mahal," ujar Rhenald.

Dalam menghadapi pelemahan nilai tukar rupiah, pemerintah telah menempuh sejumlah kebijakan, di antaranya mengendalikan impor barang konsumsi, peningkatan devisa dari sektor pariwisata, hingga menunda proyek infrastruktur yang memiliki komponen impor yang tinggi.

Selain itu, Bank Indonesia selaku otoritas moneter juga mengantisipasi dampak tersebut dengan menaikkan suku bunga acuan dan melakukan intervensi ganda, baik di pasar valas dan beli SBN (Surat Berharga Negara) yang dilepas investor di pasar sekunder.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Jamin Suplai ke Kilang Pertamina, Proyek Pipa Gas Senipah-Balikpapan Dimulai

Jamin Suplai ke Kilang Pertamina, Proyek Pipa Gas Senipah-Balikpapan Dimulai

Whats New
Mendag Zulhas: Saya Sedih Petani Jual Sawit ke Malaysia

Mendag Zulhas: Saya Sedih Petani Jual Sawit ke Malaysia

Whats New
Tips Berburu Barang Elektronik Idaman ala Aulion di Puncak Kampanye Shopee 7.7 Mega Elektronik Sale

Tips Berburu Barang Elektronik Idaman ala Aulion di Puncak Kampanye Shopee 7.7 Mega Elektronik Sale

Whats New
IHSG dan Rupiah Kompak Ditutup Melemah

IHSG dan Rupiah Kompak Ditutup Melemah

Whats New
Pelemahan Rupiah akan Berlanjut Sampai Rp 16.000, Ini Pemicunya

Pelemahan Rupiah akan Berlanjut Sampai Rp 16.000, Ini Pemicunya

Whats New
Pengusaha Pusat Belanja Sarankan Pemerintah Melonggarkan Syarat Vaksinasi Booster

Pengusaha Pusat Belanja Sarankan Pemerintah Melonggarkan Syarat Vaksinasi Booster

Whats New
Mendag Zulhas: 3 Minggu Saya Menjabat, Harga Bahan Pokok Alami Tren Penurunan

Mendag Zulhas: 3 Minggu Saya Menjabat, Harga Bahan Pokok Alami Tren Penurunan

Whats New
Kunjungi Kemendagri, BPH Migas Minta Adanya Pengawasan Distribusi BBM Subsidi

Kunjungi Kemendagri, BPH Migas Minta Adanya Pengawasan Distribusi BBM Subsidi

Rilis
Dapat Pendanaan Baru, Health Insurtech Rey Target Raih Gross Premi 1 Juta Dollar AS

Dapat Pendanaan Baru, Health Insurtech Rey Target Raih Gross Premi 1 Juta Dollar AS

Whats New
Pensiunan TNI dan Polri Bisa Lapor SPTB secara Online Pakai ASABRI Mobile

Pensiunan TNI dan Polri Bisa Lapor SPTB secara Online Pakai ASABRI Mobile

Whats New
Subsidi Perumahan Rp 19,1 Triliun, Sri Mulyani: Angkanya Tidak Kecil, APBN Bekerja Keras

Subsidi Perumahan Rp 19,1 Triliun, Sri Mulyani: Angkanya Tidak Kecil, APBN Bekerja Keras

Whats New
Kurs Rupiah Tembus Rp 15.000 Per Dollar AS, Ekonom: Baru Permulaan

Kurs Rupiah Tembus Rp 15.000 Per Dollar AS, Ekonom: Baru Permulaan

Whats New
Mau Tarik Tunai BCA di Indomaret Terdekat? Cek Syarat dan Biayanya

Mau Tarik Tunai BCA di Indomaret Terdekat? Cek Syarat dan Biayanya

Spend Smart
Menimbang Keberadaan Aplikasi MyPertamina

Menimbang Keberadaan Aplikasi MyPertamina

Whats New
7 Perusahaan Bakal Ikut Produksi Minyakita Rp 14.000 Per Liter

7 Perusahaan Bakal Ikut Produksi Minyakita Rp 14.000 Per Liter

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.