BNI Syariah Ingin Jadi Bank Syariah Global pada 2020

Kompas.com - 12/09/2018, 20:02 WIB
Logo BNI Syariah. BNI Syariah bermula sebagai Unit Usaha Syariah (UUS) BNI konvensional yang mulai beroperasi pada 29 April 2000. Selanjutnya, pada 19 Juni 2010, status BNI Syariah meningkat menjadi Bank Umum Syariah (BUS). PrimusLogo BNI Syariah. BNI Syariah bermula sebagai Unit Usaha Syariah (UUS) BNI konvensional yang mulai beroperasi pada 29 April 2000. Selanjutnya, pada 19 Juni 2010, status BNI Syariah meningkat menjadi Bank Umum Syariah (BUS).

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Bisnis Komersil BNI Syariah Dhias Widhiyati mengatakan, pihaknya menargetkan menjadi bank syariah global dan modern pada tahun 2020 mendatang

Namun, sebelum mencapai target tersebut, BNI Syariah perlu masuk terlebih dahulu dalam kategori Bank Umum Kelompok Usaha (BUKU) III tahun 2019.

"Untuk bisa menjadi modern dan global syariah bank tahun 2020, tahun depan setidaknya sudah masuk kategori BUKU III, saat ini kita terus berusaha memperbesar modal," ujar Dhias.

Ketika sudah masuk BUKU III, Dhias menginginkan adanya cabang BNI Syariah di luar negeri. Caranya adalah dengan mulai menggiatkan transaksi internasional.

"Setidaknya bisa menembus di wilayah Asia Tenggara dulu," tuturnya.

Guna mendukung target BNI Syariah tahun 2020 tersebut, ada beberapa alternatif untuk pertumbuhan anorganik agar perseroan masuk terlebih dahulu dalam kategori BUKU III tahun depan.

"Salah satunya yang pernah disampaikan oleh CEO kami untuk initial public offering (IPO). Namun, dengan kondisi BNI Syariah saat ini kami lihat dulu sampai akhir tahun," sebut Dhias.

Dia menyampaikan beberapa langkah alternatif yang mungkin akan dilakukan oleh BNI Syariah seperti pendanaan strategis investor atau akuisisi lembaga keuangan syariah.

"Itu masih dalam pembahasan kami," tutur Dhias.

Untuk masuk kategori BUKU III dibutuhkan modal sebesar Rp 5 triliun, sementara modal BNI Syariah saat ini masih Rp 3,8 triliun. Sebelumnya, BNI Syariah telah mendapat suntikan dana Rp 1 triliun dari induk perusahaannya.

"Berarti butuh Rp 1,2 triliun lagi. Induk sudah memberi suntikan Rp 1 triliun, sekarang kita berusaha sendiri mencari alternatif untuk pertumbuhan (modal)," ujar Dhias.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ditawari Gabung ICAO, Menhub: Kemajuan Sektor Penerbangan Kita Diakui Dunia Internasional

Ditawari Gabung ICAO, Menhub: Kemajuan Sektor Penerbangan Kita Diakui Dunia Internasional

Whats New
IFG: Dana Pensiun Bisa Kurangi Ketergantungan RI dari Modal Asing

IFG: Dana Pensiun Bisa Kurangi Ketergantungan RI dari Modal Asing

Whats New
Berlaku Hari Ini, Simak Aturan Lengkap Syarat Perjalanan Dalam Negeri dengan Kapal Laut

Berlaku Hari Ini, Simak Aturan Lengkap Syarat Perjalanan Dalam Negeri dengan Kapal Laut

Whats New
Atasi Wabah PMK, Kementan Kirim Obat-obatan Senilai Rp 534,29 Juta ke Beberapa Wilayah

Atasi Wabah PMK, Kementan Kirim Obat-obatan Senilai Rp 534,29 Juta ke Beberapa Wilayah

Whats New
LKPP Segera Terbitkan Aturan Pengadaan Barang Jasa Khusus IKN

LKPP Segera Terbitkan Aturan Pengadaan Barang Jasa Khusus IKN

Whats New
Gelar Halalbihalal, J99 Corp Beri Apresiasi pada Karyawan Terbaik

Gelar Halalbihalal, J99 Corp Beri Apresiasi pada Karyawan Terbaik

Whats New
Eropa Bingung Bayar Impor Gas dari Rusia

Eropa Bingung Bayar Impor Gas dari Rusia

Whats New
Lin Chen Wei Tersangka Kasus Ekspor CPO, Anggota DPR Minta Kementerian yang Gunakan Jasanya Beri Klarifikasi

Lin Chen Wei Tersangka Kasus Ekspor CPO, Anggota DPR Minta Kementerian yang Gunakan Jasanya Beri Klarifikasi

Whats New
Tren Belanja Kuartal I-2022, Tokopedia: Masker Kesehatan Laris Manis

Tren Belanja Kuartal I-2022, Tokopedia: Masker Kesehatan Laris Manis

Whats New
Harga Sawit Petani Anjlok, Tapi Ironinya Minyak Goreng Tetap Mahal

Harga Sawit Petani Anjlok, Tapi Ironinya Minyak Goreng Tetap Mahal

Whats New
Prokes Dilonggarkan, Simak Syarat Perjalanan Lengkap Kereta Api Terbaru

Prokes Dilonggarkan, Simak Syarat Perjalanan Lengkap Kereta Api Terbaru

Whats New
Shopee Tebar Diskon Hingga 60 Persen untuk Produk Kebutuhan Rumah

Shopee Tebar Diskon Hingga 60 Persen untuk Produk Kebutuhan Rumah

Spend Smart
Larangan Ekspor Belum Mempan, Harga Minyak Goreng Masih Saja Mahal

Larangan Ekspor Belum Mempan, Harga Minyak Goreng Masih Saja Mahal

Spend Smart
Kemenkominfo Gelar Startup Gathering Road to Hub.id Summit 2022

Kemenkominfo Gelar Startup Gathering Road to Hub.id Summit 2022

Whats New
Mau Jadi Negara Maju, Porsi Pasar Keuangan RI Harus 400 Persen dari PDB

Mau Jadi Negara Maju, Porsi Pasar Keuangan RI Harus 400 Persen dari PDB

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.