Cegah Krisis Nilai Tukar, Turki Naikkan Suku Bunga Jadi 24 Persen

Kompas.com - 14/09/2018, 08:45 WIB
Warga menukarkan uang di kantor penukaran uang di Istanbul, Turki, 8 Agustus 2018. Dirundung krisis ekonomi, nilai tukar mata uang Turki lira merosot tajam. Hingga Jumat (10/8/2018) lalu, posisi lira anjlok 15,88 persen ke level 6,4323 per dollar Amerika Serikat (AS). AFP PHOTO/YASIN AKGULWarga menukarkan uang di kantor penukaran uang di Istanbul, Turki, 8 Agustus 2018. Dirundung krisis ekonomi, nilai tukar mata uang Turki lira merosot tajam. Hingga Jumat (10/8/2018) lalu, posisi lira anjlok 15,88 persen ke level 6,4323 per dollar Amerika Serikat (AS).

NEW YORK, KOMPAS.com - Bank sentral Turki (CBRT) telah menaikkan suku bunga acuan menjadi 24 persen sebagai salah satu upaya untuk mengendalikan inflasi yang meroket dan mencegah krisis mata uang.

CBRT mengabaikan keinginan Presiden Recep Tayyip Erdogan untuh menahan suku bunga. Bank sentral pun memutuskan untuk meningkatkan suku bunga acuan jangka pendek  dari 17,5 persen setelah berminggu-minggu mengalami tekanan dari investor internasional.

Pasar keuangan pun semakin khawatir bahwa Turki berisiko masuk ke daftar negara yang mencari dana dari Dana Moneter Internasional (IMF). Sebelumnya, Argentina telah menyepakati pinjaman bulan lalu dengan IMF.

Dikutip dari The Guardian, Jumat (14/9/2018), lira Turki mulai pulih tak lama setelah kenaikan suku bunga, menguat sebesar 3 persen menjadi 6,16 liar per dollar AS.

Mata uang Turki ini telah jatuh dalam beberapa bulan terakhir dan bahkan setelah kenaikan suku bunga tersebut, nilai tukar lira terhadap dollar AS masih anjlok hampir 39 persen secara tahunan.

Investor telah memusatkan perhatian mereka pada Ankara menyusul terpilihnya kembali Erdogan. Erdogan menempatkan menantu laki-lakinya sebagai Menteri Keuangan dan dalam langkah terpisah berupaya untuk mengendalikan dana kekayaan negara yang berdaulat.

Sebagai informasi, krisis yang berkembang persat diakibatkan adanya penahanan seorang pendeta AS atas tuduhan spionase dan teror, yang membuat Presiden Donald Trump menggandakan tarif impor pada baja dan aluminium Turki.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kenaikan suku bunga bank sentral, yang mengejutkan investor, didapuk sebagai solusi lantaran Erdogan membuat kebijakan-kebijakan yang dianggap akan membuat bangkrut. Erdogan telah lama menekan bank untuk mempertahankan suku bunga rendah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Pertumbuhan melambat ke tingkat tahunan 5,2 persen pada kuartal kedua, dari 7,4 persen pada kuartal pertama tahun ini.

Sebelum tingkat suku bunga diumumkan, Erdogan mengatakan bank sentral itu independen dan mengambil keputusan sendiri. Namun, ia mengulangi keyakinannya bahwa suku bunga harus dipangkas, lantaran dirinya menganggap tingginya suku bunga sebagai instrumen untuk eksploitasi.

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.