Hadapi Industri 4.0, Pelaku Usaha Tekstil Harus Transformasi

Kompas.com - 14/09/2018, 11:34 WIB
Produk tekstil pada manekin dalam pameran Indo Intertex di JIExpo, Kemayoran Jakarta, pada 4-7 April 2018. Kompas.com/Josephus Primus Produk tekstil pada manekin dalam pameran Indo Intertex di JIExpo, Kemayoran Jakarta, pada 4-7 April 2018.

JAKARTA, KOMPAS.com - Pelaku usaha di sektor Tekstil dan produk tekstil (TPT) harus melakukan transformasi untuk menghadapi era industri 4.0.

Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Haris Munandar menjelaskan, dalam era industri 4.0, terjadi konektivitas antara manusia, mesin, dan data.

Kemenperin telah menetapkan 10 prioritas bagi industri yang akan masuk era 4.0 untuk melakukan perbaikan alur aliran material, desain ulang zona industri, akomodasi standar sustainability, pemberdayaan UMKM, membangun infrastruktur digital nasional, menarik investasi asing, meningkatkan kualitas SDM, membentuk ekosistem inovasi, menerapkan insentif investasi teknologi, dan melakukan harmonisasi aturan dan kebijakan.

Khusus untuk industri TPT, menurut Haris masih terdapat produksi dalam negeri yang masih lemah untuk bersaing dengan produsen dari negara lain yaitu weaving, knitting, dyeing, finishing, serta sektor penunjang seperti spinning dan serat. Upaya untuk memperkuat pelaku industri TPT di bidang itu diperlukan peningkatan kapasitas melalui investasi mesin modern dengan skema pembiayaan yang ramah industri.

" Industri TPT akan terus berkembang. Ini sejalan dengan permintaan pakaian di masyarakat yang tak mungkin berkurang," kata Haris dalam pernyataannya pada seminar Strategi Transformasi Industri TPT Menuju Industri 4.0, Jumat (14/9/2018).

Adapun Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat memandang, seluruh perusahaan anggota asosiasi membutuhkan bantuan pemerintah dan pihak-pihak terkait guna bertransformasi dan menerapkan standar industri 4.0.

Selain menghadapi tantangan keterbatasan akses ke pasokan bahan mentah dan ketergantungan yang tinggi pada bahan impor, Ade mencatat ada tiga hal lain yang menghambat kinerja seluruh anggota API.

"Dari sisi power, manpower, dan market access kita kalah segalanya dari Bangladesh dan Vietnam yang menjadi pemain tekstil baru yang mampu menyalip Indonesia," tutur Ade.

Sementara itu, co-founder dan CMO marketplace 88Spares.com Rosari Soendjoto mengungkapan, dalam setahun terakhir pihaknya turut membantu pelaku industri TPT menghadapi industri 4.0. 88Spares.com mempertemukan pembeli dan penjual mesin, bahan baku, dan produk akhir tekstil.

"Selama hampir satu tahun beroperasi, kami sudah bekerjasama dengan 100 merek OEM dan aftermarket mesin dan bahan baku tekstil yang menjual lebih dari 6.000 item di 88Spares.com. Saat ini kami sedang dalam proses digitizing lebih banyak lagi produk, sehingga sampai akhir kuartal II tahun depan, jumlah item yang kami jual mencapai 252.000," kata Rosari.

Industri 4.0, imbuh Rosari, menjadi hal yang penting bagi industri TPT, karena pemanfaatan teknologi dalam industri generasi keempat dapat mempermudah pekerjaan bukan menggantikan fungsi pekerja manusia dengan robot.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X