Apindo Sarankan Transaksi Perdagangan Gunakan Yuan China - Kompas.com

Apindo Sarankan Transaksi Perdagangan Gunakan Yuan China

Kompas.com - 14/09/2018, 21:02 WIB
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Hariyadi Sukamdani dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (21/8/2018).KOMPAS.com/AMBARANIE NADIA Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Hariyadi Sukamdani dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (21/8/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia ( Apindo) Hariyadi Sukamdani mengaku pihaknya sedang menyusun skema agar perdagangan Indonesia dengan negara lain bisa memakai mata uang selain dollar AS. Hal ini diusulkan guna mengurangi ketergantungan terhadap dollar AS yang terus menguat terhadap mata uang negara-negara berkembang.

"Ekspor impor terbesar kita sekarang kan sama China, jumlahnya cukup signifikan. Itu kalau kita bisa lakukan perdagangan berbasis renminbi, akan mengurangi permintaan terhadap dollar AS," kata Hariyadi saat ditemui di Hotel Kempinski, Jumat (14/9/2018).

Pilihan menggunakan renminbi alis yuan ini, menurut Hariyadi, kemungkinan besar bisa dilakukan dalam waktu dekat karena selain perdagangan dengan Indonesia cukup besar, China juga akan diuntungkan. Diuntungkan dalam arti jadi tidak terpengaruh oleh penguatan dollar AS yang menyasar hampir seluruh negara di dunia.

Di satu sisi, pemerintah telah berupaya mengurangi ketergantungan dollar AS dengan cara mengendalikan impor dan menggenjot ekspor. Namun, cara itu dinilai Hariyadi tidak cukup, sehingga perlu strategi lain yang langsung menyasar pada kegiatan perdagangan antarnegara.

Baca juga: Rupiah Menguat, BI Masih Waspadai Risiko Global

"Bukan hanya mengurangi impor dan meningkatkan ekspor, tapi juga dari bagaimana mengelola currency lain sebagai basis untuk perdagangan," tutur Hariyadi.


Adapun sejumlah negara di Asean sebelumnya sudah menerapkan kebijakan untuk menggunakan mata uang lokal dalam perdagangan mereka yang cakupannya regional. Namun, cara itu dipandang masih belum efektif karena pada akhirnya para eksportir tetap memilih pakai dollar AS.

"Ini semuanya kan masalah trust, enggak percaya mata uang selain dollar AS, boleh dibilang begitu. Makanya kita lagi cari terus apa instrumen yang menarik untuk mengatasi ini," ujar Hariyadi.

Komentar
Close Ads X