Impor Masih Tinggi, Ini yang Akan Dilakukan Sri Mulyani

Kompas.com - 17/09/2018, 18:30 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati usai menghadiri rapat penetapan asumsi makro untuk RAPBN 2019 bersama Komisi XI DPR RI, Kamis (13/9/2018). KOMPAS.com / ANDRI DONNAL PUTERAMenteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati usai menghadiri rapat penetapan asumsi makro untuk RAPBN 2019 bersama Komisi XI DPR RI, Kamis (13/9/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengaku telah berkoordinasi dengan menteri dan lembaga terkait untuk menyikapi masih tingginya impor dalam posisi neraca perdagangan Agustus 2018.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Agustus mengalami defisit, di mana penyumbang terbesarnya adalah dari sektor migas.

"Untuk yang migas, (impornya) masih cukup tinggi, sehingga kita mengalami defisit. Oleh karena itu, pelaksanaan untuk B20 dan adanya kenaikan impor dari migas, terutama pada bulan sebelum diberlakukannya B20, kami akan lihat apakah itu suatu tren atau anomali," kata Sri Mulyani usai rapat dengan Komisi XI di DPR RI, Senin (17/9/2018).

Merujuk data BPS, impor secara bulanan (mtm) pada Agustus tercatat turun 7,97 persen dibanding Juli 2018. Total nilai impor Agustus sebesar 16,84 miliar dollar AS dengan rincian impor migas 3,05 miliar dollar AS dan impor nonmigas 13,79 miliar dollar AS.

Namun, jika melihat khusus pada impor migas, posisi bulan Agustus lebih tinggi, meningkat 14,50 persen dari 2,66 miliar dollar AS pada Juli jadi 3,05 miliar dollar AS pada Agustus.

Sementara ekspor (mtm) pun turun sebesar 2,90 persen menjadi 15,82 miliar dollar AS pada Agustus. Rinciannya, 1,38 miliar dollar AS sebagai nilai ekspor migas dan 14,43 miliar dollar AS untuk ekspor nonmigas.

Dengan begitu, secara keseluruhan neraca perdagangan Agustus defisit 1,02 miliar dollar AS. Sedangkan neraca perdagangan migas pada bulan yang sama defisit 1,66 miliar dollar AS.

"Berdasarkan pembahasan dengan para menteri, dari BUMN, ESDM, Menko Perekonomian, juga Pertamina dan Bank Indonesia, kami akan terus menjaga dan melihat perkembangannya ke depan," tutur Sri Mulyani.

Neraca perdagangan sejak awal 2018 lebih banyak mengalami defisit. Untuk posisi Januari hingga Agustus 2018 terdapat defisit 4,09 miliar dollar AS di mana periode yang sama tahun sebelumnya (Januari-Agustus 2017) neraca perdagangan justru surplus sebesar 9,06 miliar dollar AS.

Pemerintah sebelumnya menyatakan berupaya mengembalikan posisi neraca perdagangan agar bisa surplus hingga akhir tahun. Posisi neraca perdagangan penting karena berperan dalam menentukan posisi neraca transaksi berjalan (perdagangan barang dan jasa) yang pada akhirnya mempengaruhi posisi neraca pembayaran.

Perbaikan terhadap posisi neraca pembayaran dibutuhkan salah satunya untuk menguatkan nilai tukar rupiah terhadap mata uang negara lain, termasuk dollar AS. Belakangan ini, nilai tukar terhadap dollar AS masih dalam tren pelemahan, di kisaran Rp 14.800 sampai Rp 14.900.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Cerita Boy Thohir, Bos Adaro yang Pernah Masuk ICU 11 Hari karena Covid-19

Cerita Boy Thohir, Bos Adaro yang Pernah Masuk ICU 11 Hari karena Covid-19

Whats New
Mengenal Zakat Mal: Pengertian, Hukum, dan Cara Menghitungnya

Mengenal Zakat Mal: Pengertian, Hukum, dan Cara Menghitungnya

Whats New
Neraca Perdagangan Surplus Karena UMKM Ekspor Terus Tumbuh

Neraca Perdagangan Surplus Karena UMKM Ekspor Terus Tumbuh

Whats New
OJK Minta Perusahaan Asuransi Selesaikan Aduan Nasabah terkait Unitlink

OJK Minta Perusahaan Asuransi Selesaikan Aduan Nasabah terkait Unitlink

Whats New
Dari 64,2 Juta UMKM di Indonesia, Baru 13 Persen yang Telah Lakukan Digitalisasi

Dari 64,2 Juta UMKM di Indonesia, Baru 13 Persen yang Telah Lakukan Digitalisasi

Whats New
Menaker: Belum Ada Perusahaan yang Menyatakan Tidak Mampu Bayar THR

Menaker: Belum Ada Perusahaan yang Menyatakan Tidak Mampu Bayar THR

Whats New
Gojek-Tokopedia Merger, Bos Gojek Andre Soelistyo Disebut Jadi Pemimpinnya

Gojek-Tokopedia Merger, Bos Gojek Andre Soelistyo Disebut Jadi Pemimpinnya

Whats New
[TREN EDUKASI KOMPASIANA] 'Reading Habit' pada Siswa | Pendidikan Perempuan dan Kesuksesannya | Mengatasi Ujian Bahasa Indonesia yang Sulit

[TREN EDUKASI KOMPASIANA] "Reading Habit" pada Siswa | Pendidikan Perempuan dan Kesuksesannya | Mengatasi Ujian Bahasa Indonesia yang Sulit

Rilis
Soal Deposito Raib, Bank Mega Syariah: Dana Telah Masuk ke Rekening Perusahaan

Soal Deposito Raib, Bank Mega Syariah: Dana Telah Masuk ke Rekening Perusahaan

Whats New
YDBA Beri Pembinaan untuk Para Perajin Cangkul di Klaten

YDBA Beri Pembinaan untuk Para Perajin Cangkul di Klaten

Whats New
Perusahaan Tidak Bayar THR Lebaran 2021, Begini Cara Melaporkannya

Perusahaan Tidak Bayar THR Lebaran 2021, Begini Cara Melaporkannya

Whats New
Co-CEO Gojek Bakal Jadi Bos Perusahaan Hasil Merger dengan Tokopedia?

Co-CEO Gojek Bakal Jadi Bos Perusahaan Hasil Merger dengan Tokopedia?

Whats New
Posko THR 2021 Diluncurkan, Apa Fungsinya?

Posko THR 2021 Diluncurkan, Apa Fungsinya?

Whats New
Kemenperin Pacu Peran Startup untuk Dukung Transformasi Industri

Kemenperin Pacu Peran Startup untuk Dukung Transformasi Industri

Rilis
IHSG 'Parkir' di Zona Merah, Rupiah Justru Menguat

IHSG "Parkir" di Zona Merah, Rupiah Justru Menguat

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads X