IMF-Indonesia, Dua Dasawarsa yang Berbeda Halaman 1 - Kompas.com

IMF-Indonesia, Dua Dasawarsa yang Berbeda

Kompas.com - 23/09/2018, 13:23 WIB
Direktur Pelaksana IMF Michel Camdessus menyaksikan Presiden Soeharto menandatangani nota kesepakatan bantuan Dana Moneter Internasional di Jalan Cendana, 15 Januari 1998.KOMPAS/JB SURATNO Direktur Pelaksana IMF Michel Camdessus menyaksikan Presiden Soeharto menandatangani nota kesepakatan bantuan Dana Moneter Internasional di Jalan Cendana, 15 Januari 1998.

PERNAHKAH Anda menemukan nama Indonesia di buku teks atau jurnal ekonomi? Rasanya jarang.

Meskipun ekonomi Indonesia termasuk 20 besar dunia. Rupanya, tidak banyak ekonom dan akademisi yang menganggap penting untuk menulis tentang Indonesia. Mereka biasanya malah mengingat Indonesia dalam konteks yang kurang menyenangkan: krisis ekonomi.

Sebagai contoh adalah Frederic Mishkin, profesor ekonomi dari Columbia University dan mantan anggota Dewan Gubernur Bank Sentral AS. Dalam bukunya, dia menggunakan Indonesia sebagai contoh negara yang harus menanggung ongkos mahal akibat kegagalan sistem perbankan.

Baca juga: Menakar Tuah Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia di Bali

- Indonesia sebagai contoh kasus dalam buku The Economics of Money, Banking and Financial Markets (Mishkin, 2004).

Gambar 1. Indonesia sebagai contoh kasus dalam buku The Economics of Money, Banking and Financial Markets (Mishkin, 2004).

Sementara itu, media massa internasional mencatat Indonesia sebagai ilustrasi tentang sebuah rezim pemerintahan yang sangat kuat namun akhirnya tumbang akibat krisis ekonomi.

Dalam obituarinya ketika Presiden Suharto wafat, majalah The Economist menuliskan bahwa sang diktator dari Indonesia tersebut “jatuh bersama Rupiah”.

Padahal saat itu, ia baru saja memenangkan pemilu yang mendudukkannya sebagai orang nomor satu untuk ketujuh kalinya berturut-turut.

Baca juga: BKPM: Pertemuan IMF-Bank Dunia Peluang Emas Tingkatkan Citra Indonesia

- Majalah The Economist (Januari 2008) mengenang Presiden Suharto


Gambar 2. Majalah The Economist (Januari 2008) mengenang Presiden Suharto.


Krisis ekonomi di Indonesia 1997-1998 memang sebuah kasus yang luar biasa. A rare and remarkable case. Hanya beberapa tahun sebelumnya, Indonesia digadang-gadang sebagai salah satu macan Asia (the Asian Tiger economies).

Pertumbuhan ekonomi relatif tinggi dan tampak solid. Daya belinya meningkat secara konsisten disertai berkurangnya populasi yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Sementara itu, walaupun tidak sepenuhnya demokratis, pemerintahan Presiden Soeharto dianggap mampu memberi jaminan keamanan dan kestabilan yang penting bagi bisnis.

Agenda pengembangan ekonomi dituangkan secara rapih dalam Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) yang kemudian dieksekusi secara efektif oleh mesin birokrasi.

Baca juga: BUMN Tawarkan Investasi 42 Miliar Dollar AS di Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia

Maka, sebuah hal yang mengejutkan ketika pada medio 1997 ekonomi Indonesia digulung krisis. Seorang peneliti dari SOAS London mendeskripsikan terjadinya krisis di Indonesia saat itu seperti “meteor yang jatuh dari langit” (Booth A., 2003).

Tak diduga, tak dinyana. Semua diawali oleh nilai tukar Rupiah yang terjun bebas. Perusahaan dengan hutang valas mendadak bangkrut. Demikian pula sejumlah bank terkait. Harga-harga juga melambung tinggi, sehingga banyak kebutuhan pokok tak terbeli.

Ekonomi Indonesia akhirnya “resmi” mengalami krisis ketika pertumbuhan terkontraksi ibarat balon yang mengempis. Sepanjang tahun 1998, ekonomi Indonesia tumbuh negatif 13 persen!

Kondisi ini tentu sangat kontras dengan era sebelum krisis ketika ekonomi Indonesia mampu tumbuh sekitar 7 persen setiap tahun selama satu dekade.

- Koreksi tajam pada pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 1998.

Gambar 3. Koreksi tajam pada pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 1998.

Bersambung ke halaman berikutnya: Pasien IMF


Page:

Close Ads X