Venezuela Akan Tingkatkan Ekspor Minyak ke China

Kompas.com - 23/09/2018, 17:18 WIB
Foto yang dirilis pada Jumat (14/9/2018) menunjukkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro (kanan) dan Presiden China Xi Jinping berjalan pada upacara penyambutan di Beijing, China. (AFP/Marcelo Garcia)
Foto yang dirilis pada Jumat (14/9/2018) menunjukkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro (kanan) dan Presiden China Xi Jinping berjalan pada upacara penyambutan di Beijing, China. (AFP/Marcelo Garcia)

KOMPAS.com - Selepas berkunjung ke Beijing, Presiden Venezuela Nicolas Maduro mengatakan Venezuela akan meningkatkan ekspor minyaknya ke China menjadi satu juta barrel per hari.

China dan Venezuela sebelumnya telah menjadi mitra ekonomi yang kuat. Dikutip dari Al Jazeera, China pun telah sepakat untuk menginvestasikan 5 miliar dollar AS tambahan ke Venezuela. Investasi itu akan membantu untuk meningkatkan produksi minyak hampir dua kali lipat untuk diekspor ke China.

"Kami mengambil langkah untuk memasuki era ekonomi baru. Kami berada di jalaur untuk memiliki ekonomi baru dan perjanjian dengan China memperkuat hal itu," ujar Maduro.

Baca juga: Krisis Venezuela: Kapal Rumah Sakit dari China Berlabuh di La Guaira

Maduro menghabiskan waktu di China sebanyak 2 hari dan disambut oleh Presiden China Xi Jinping untuk menghadiri pertemuan di China Development Bank dan China National Petroleum Corporation (CNPC).

Dalam satu dekade terakhir, Venezuela telah menerima lebih dari 60 miliar dollar AS dari China dengan total utang yang belum dibayarkan sebesar 20 miliar dollar AS. Sebagian dari utang tersebut ditebus dengan pengiriman minyak.

Sebelumnya, China sempat melonggarkan pelunasan utang Venezuela di tahun 2016 ketika negara tersebut harus berhadapan dengan krisis ekonomi.

Baca juga: Tak Hanya Venezuela, 5 Negara Ini Pernah Alami Hiperinflasi

Maduro enggan berkomentar apakah kondisi tersebut kembali diperpanjang.

"Venezuela membayarkan utangnya tepat waktu, hal tersebut terlihat dari saat-saat terburuk (Venezuela) mampu untuk menanggapi komitmen China," ujar dia.

Melalui Twitter, Venezuela mengatakan, kedua negara telah menandatangani 28 perjanjian dengan lebih dari 700 proyek pembangunan di berbagai bidang.

Sebagai infromasi, ekonomi Venezuela terus memburuk dengan cepat selama beberapa tahun terakhir.

Masyarakat Venezuela bahkan harus berhadapan dengan kondisi kekurangan makanan serta obat-obatan, ketika di sisi lain layanan publik seperti transportasi, listrik, dan air juga terhenti.

Jutaan warga Venezuela meninggalkan negara itu setelah Venezuela mengalami resesi sejak empat tahun lalu.

Krisis dimulai setelah tahun 2014 ketika harga minyak anjlok. Minyak sendiri menyumbang 96 persen dari pendapatan Venezuela. Sehingga, Venezuela kekurangan modal asing dan inflasi makin parah.

Produksi minyak telah turun ke level terendah selama 30 tahun hanya sebesar 1,4 juta barrel per hari pada bulan Agustus. Padahal berdasarkan data Organisasi Negara Penghasil Minyak, rekor teringgi produksi minyak mentah Venezuela mencapai 3,2 juta barrel 10 tahun lalu.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X