Rugi Terus, Operasional Malaysia Airlines Harus Diperiksa

Kompas.com - 24/09/2018, 16:38 WIB
Sebuah Airbus A330-300 milik Malaysia Airlines. WikipediaSebuah Airbus A330-300 milik Malaysia Airlines.

KUALA LUMPUR, KOMPAS.com - Mantan direktur utama Malaysian Airlines Systems Bhd Tan Sri Dr Abdul Aziz Abdul Rahman menyatakan, pemerintah Malaysia harus membentuk tim yang terdiri dari sejumlah pakar. Tim itu bertugas memeriksa operasional maskapai Malaysia Airlines Berhad.

Sebab, rencana restrukturisasi maskapai tersebut senilai 6 miliar ringgit dianggap gagal. Pemegang saham tunggal Malaysia Airlines, Khazanah Nasional Bhd telah menyuntikkan investasi tersebut untuk mendukung rencana restrukturisasi Malaysia Airlines yang diluncurkan tahun 2014 silam.

Dikutip dari The Star, Senin (24/9/2018), Abdul Aziz menuturkan, ketimbang mencatat laba, Malaysia Airlines membukukan kerugian selama tiga tahun berurut-turut. Pada tahun pertama implementasi rencana restrukturisasi, Malaysia Airlines menderita kerugian 1 miliar ringgit.

"Mulai tahun 2015 sampai 2017, mereka gagal. Di tahun keempat (2018), kita belum tahu. Kita harus menunggu hingga akhir tahun ini untuk melihat hasilnya," ujar Abdul Aziz.

Ia mengungkapkan, apabila pada tahun 2018 ini Malaysia Airlines menunjukkan perbaikan dibandingkan tahun sebelumnya, maka ada harapan restrukturisasi bisa berjalan dengan baik. Namun, apabila kinerja maskapai tersebut buruk, maka pemerintah harus meninjau operasional Malaysia Airlines.

"Uang pemerintah adalah uang rakyat. Modal yang diberikan kepada Malaysia Airlines adalah uang rakyat dan bisa dipertanyakan. Dalam hal kerugian, (rencana) restrukturisasi telah gagal," ungkap Abdul Aziz.

Abdul Aziz mengatakan, Malaysia Airlines berdarah-darah karena tingginya biaya operasional. Salah satunya adalah lantaran tingginya gaji yang dibayarkan kepada jajaran manajemen yang merupakan orang asing, termasuk direktur utama, direktur operasional, dan sejumlah pimpinan komersial lainnya.

Alasan lainya adalah pembelian pesawat berbadan lebar Airbus A380. Menurut Abdul Aziz, keputusan pembelian pesawat itu adalah investasi yang buruk dan menyebabkan arus kas Malaysia Airlines tersedot.

Abdul Aziz menyarankan Malaysia Airlines melihat dan memperbesar bisnis kargo, maintenance, repair and overhaul (MRO) atau pemeliharaan dan perbaikan, serta binis katering penerbangan. Ia menyebut, Malaysia Airlines harus mengeksplorasi kesempatan besar bisnis kargo dan memperbesar portfolio bisnis di China, India, Taiwan, Hong Kong, Australia, dan Selandia Baru.

"Ketika saya pensiun tahun 1991, kita memiliki MRO kelas dunia (di mana maskapai dari) AS, Kanada, Australia, Selandia Baru, dan Singapura mengirim (pesawat) ke kami (untuk layanan MRO)," tutur Abdul Aziz.

 

 

 

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X