Butuh Investasi Rp 3 Triliun untuk Kembangkan Bandara Komodo

Kompas.com - 25/09/2018, 14:20 WIB
Penataan kawasan Labuan Bajo dilakukan dengan menyediakan sarana dan prasarana pendukung. Biro Komunikasi Publik Kementerian PUPRPenataan kawasan Labuan Bajo dilakukan dengan menyediakan sarana dan prasarana pendukung.

JAKARTA, KOMPAS.com - Bandara Komodo di Labuan Bajo, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) tengah diproyeksikan pemerintah untuk memperoleh pengembangan untuk menjadi bandara kelas internasional.

Direktur Bandar Udara Kementerian Perhubungan ( Kemenhub) Polana Banguningsih Pramesti menjelaskan, Bandara Komodo akan mendapatkan beberapa pembaruan agar bisa menjadi bandara internasional.

"Perluasannya nanti ada perpanjangan runway, apron, terminal, pembangunan gedung-gedung penunjang lainnya, terminal internasional, kargo, dan sebagainya," kata Polana di Gedung Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Jakarta, Selasa (25/9/2018).

Polana menambahkan, saat ini Bandara Komodo memiliki panjang landasan atau runway 2.250x45 meter. Setelah dikembangkan, panjang runway tersebut akan bertambah menjadi 2.450x45 meter.

Selain itu, kapasitas penumpang yang saat ini hanya menampung 1 juta orang bisa bertambah menjadi 4 juta orang per tahun setelah proses pengembangan tersebut.

Skema kerja sama pemerintah badan usaha atau KPBU kemudian dipilih untuk mengembangkan Bandara Komodo. Skema ini dipilih lantaran adanya keterbatasan anggaran milik pemerintah untuk hal tersebut.

Saat ini, pemerintah tengah melakukan market sounding guna mencari investor untuk pengembangan Bandara Komodo.

Adapun total investasi yang dibutuhkan untuk pengembangan Bandara Komodo mencapai Rp 3 triliun.

"Skema KPBU ini memiliki rincian investasi capex atau modal belanja Rp 1,17 triliun dan operational expenditure sebesar Rp 1,83 triliun," ucap Polana.

Polana menargetkan, setelah market sounding dan mendapatkan investor, pihaknya bakal melaksanakan lelang terbuka atau tender pada Oktober 2018.

"Kemudian penentuan pemenang lelang November 2018. Tanda tangan kontrak KPBU pada Desember 2018 financial close dan transisi pada semester I 2019, serta konstruksi sekaligus operasi pada semester II 2019-2044 karena masa konsesinya 25 tahun," pungkas Polana.


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X