BrandzView
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi

Membuka Isolasi Desa Terpencil Lewat Dana Desa

Kompas.com - 25/09/2018, 17:17 WIB
Petani kopi asal Desa Cupunagara. Dok Humas KemendesPetani kopi asal Desa Cupunagara.
|


JAKARTA, KOMPAS.com
- Petani kopi seperti Jajang Saripudin boleh berlega hati saat ini. Pasalnya, ongkos angkutan dari kampungnya ke daerah lain tak lagi semahal dulu.

Jajang yang tinggal di Desa Cupunagara, Kecamatan Cisalak, Kabupaten Subang, Jawa Barat merasakan betul perbedaan biaya transport tersebut.

Perbaikan jalan di desanya ternyata berdampak besar pada penurunan biaya transportasi. Sekarang, Jajang cukup mengeluarkan ongkos Rp 40.000 pergi pulang dari Desa Cupunagara ke Pasar Lembang.

Padahal, sebelum jalan desa diperbaiki, ia mesti merogoh kantong hingga Rp 60.000 pergi pulang dari kampungnya ke Pasar Lembang untuk mengangkut hasil pertanian.

Desa Cupunagara merupakan satu di antara 74.957 desa yang menerima dana desa sebesar Rp 1,13 miliar tahun ini.

Pemerintah melalui Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) terus menggulirkan dana desa serta melakukan pendampingan pemanfaatan dana desa.

Dana itu dikucurkan untuk mengentaskan kemiskinan dan pemerataan ekonomi di seluruh pelosok tanah air.

Desa Cupunagara terletak paling ujung di Kabupaten Subang. Dengan kondisi jalan desa yang rusak dan belum diaspal, Desa Cupunagara terisolasi dari desa lainnya.

Apalagi, Desa Cupunagara berada di ketinggian 1.800 mdpl dengan kondisi geografis berupa perbukitan dan memiliki kemiringan 25 derajat.

Dengan kondisi geografis yang kurang menguntungkan, warga Desa Cupunagara saat ini bisa meningkatkan kesejahteraan dengan adanya dana desa. Lewat musyawarah, masyarakat bersepakat membuat agenda bersama untuk membangun desa tercinta.

“Baru 3 tahun terakhir inilah, warga Desa Cupunagara akhirnya bisa merasakan jalan desa yang beraspal. Setelah diperbaiki menggunakan dana desa untuk melakukan pengaspalan 15 kilometer jalan desa dari total 35 kilometer jalan desa yang masih berbatu dan rusak berat,” kata Kepala Desa Cupunagara Wahidin Hidayat dalam pernyataan resmi.

Masyarakat desa juga bersepakat menggunakan dana desa untuk memperbaiki drainase dan saluran lingkungan desa.

Tak cuma itu, warga desa pun bisa membangun tembok penahan tanah (TPT) di beberapa wilayah yang rawan longsor dengan dana desa.

Seolah tak mau menyia-nyiakan dana desa, masyarakat juga memperbaiki akses jalan lingkungan agar warga desa dapat meningkatkan kualitas hidupnya.

Sejahterakan masyarakat desa terpencil

Wahidin Hidayat mengungkapkan, dana desa juga dimanfaatkan untuk pembentukan BUMDes (Badan Usaha Milik Desa) Mukti Raharja yang berperan penting dalam memasarkan produk unggulan desa yaitu kopi arabika yang diberi merek “Kopi Canggah.”

Menanam kopi merupakan kegiatan para petani Desa Cupunagara sejak dahulu kala. Petani biasa menanam kopi robusta di wilayahnya.

Pendapatan warga Desa Cupunagara, Kecamatan Cisalak, Kabupaten Subang, Jawa Barat. meningkat sejak membudidayakan kopi arabika. Petani menjual kopi melalui BUMDes yang kemudian memberi merk Kopi Canggah.Dok. Humas Kemendes PDTT Pendapatan warga Desa Cupunagara, Kecamatan Cisalak, Kabupaten Subang, Jawa Barat. meningkat sejak membudidayakan kopi arabika. Petani menjual kopi melalui BUMDes yang kemudian memberi merk Kopi Canggah.

Tak ragu berubah, warga desa mulai menanam kopi arabika di ketinggian di atas 1.200 meter di atas permukaan laut sejak 3 tahun terakhir. Kopi arabika khas Desa Cupunagara memiliki keunikan karena rasa manisnya.

Warga tetap menanam kopi robusta meski kopi arabika memiliki nilai ekonomis yang cukup menjanjikan di pasar. Warga desa pun mulai belajar cara menanam, merawat, dan memetik kopi arabika.

“Awalnya mereka memetik kopi secara asal-asalan. Namun, setelah melihat potensi kopi arabika yang besar di pasaran, mereka pun mulai belajar untuk menanam dan memetik biji kopi yang berwarna merah,” ujar dia.

BUMDes Mukti Raharja bersama Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Subang memberikan edukasi bagaimana menanam dan memetik biji kopi arabika dengan benar.

Dengan pengetahuan yang cukup dan pendampingan, masyarakat Desa Cupunagara bisa meningkatkan harga jual biji kopi. Bahkan, BUMDes mau membayar lebih mahal harga biji kopi petani dibandingkan tengkulak.

Pendapatan petani kopi yang semula hanya Rp 1,5 juta per bulan, kini bisa meningkat menjadi Rp 2,5 juta per bulan, karena kualitas biji kopi arabika petani cukup baik.

Petani Desa Cupunagara juga lebih memilih menjual biji kopi ke BUMDes karena pembayaran dilakukan secara tunai dan langsung.

Kepala Desa Cupunagara Wahidin Hidayat.Dok Humas Kemendes Kepala Desa Cupunagara Wahidin Hidayat.

BUMDes Mukti Raharja yang didirikan akhir 2017 kini memiliki omset Rp 10 juta per bulan dengan modal awal Rp 50 juta dari alokasi dana desa. Selain memiliki unit usaha kopi, BUMDes tersebut juga menjalankan usaha air isi ulang dalam galon.

Dari unit usaha yang ada, BUMDes mampu merekrut warga desa sebagai pekerja. Otomatis, penghasilan warga desa pun meningkat dengan adanya pekerjaan tetap tersebut.

Belum puas dengan usaha yang ada, masyarakat Desa Cupunagara berniat mengelola desa wisata. Bermodal keindahan alam yang dimiliki, Desa Cupunagara berniat mengembangkan Puncak Eurad yang berada di ketinggian 1500 mdpl.

Nantinya, wisatawan dapat menikmati keindahan alam desa saat matahari terbit maupun terbenam dari Puncak Eurad sambil menikmati kesegaran Kopi Canggah.

Dana desa efektif tekan angka kemiskinan

Sebelumnya, Kepala Biro Humas dan Kerja Sama Kemendesa PDTT Bonivacius Prasetya Ichtiarto mengatakan, penyaluran dana desa 2015 hingga 2017 sebesar Rp 122,09 triliun. Sementara, penyaluran dana desa hingga 2018 tahap 2 sebesar Rp 149,31 triliun.

Hingga kini, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang terbentuk mencapai 39.149. Sedangkan, pendamping desa hingga saat ini adalah 36.384 orang.

Bonivacius menjelaskan, anggaran tersebut digunakan di antaranya untuk jalan desa, drainase, PAUD, jembatan, sarana olahraga, air bersih, dan posyandu.

Kebijakan dana desa pun terus meningkat yakni Rp 20,67 triliun pada 2015, Rp 46,98 triliun pada 2016, serta masing-masing Rp 60 triliun pada 2017 dan 2018.

“Alokasi tahun 2018 sebanyak 3 tahap yakni Rp 12 triliun pada tahap 1, serta tahap kedua dan ketiga sebesar Rp 24 triliun,” ujar Bonivacius.

Sesuai arahan Presiden RI Joko Widodo, sebanyak 30 persen dana desa 2018 dialokasikan untuk kegiatan padat karya tunai. Dengan begitu, dana desa bisa dinikmati oleh masyarakat desa.

“Total kegiatan padat karya tunai desa yang dilaksanakan berhasil menciptakan 3.540.417 hari orang kerja dan sebanyak Rp 689,74 miliar diberikan upah,” ujarnya.

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Eko Putro Sandjojo menegaskan, pelaksanaan dana desa dan program pembangunan desa lainnya selama pemerintahan Presiden RI Joko Widodo telah berhasil menurunkan jumlah desa tertinggal menjadi 8.035.

"Selama 3,5 tahun jumlah desa tertinggal menurun. Sebanyak 8.035 desa tertinggal telah terentas. Itu artinya, target pemerintah dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2015-2019 untuk mengurangi 5.000 desa tertinggal telah terpenuhi," kata Eko saat merayakan HUT Kemerdekaan ke-73 RI di Kabupaten Seluma, Bengkulu, Jumat (17/8/2018) lalu.

Bukan hanya mengentaskan desa tertinggal saja, ia melanjutkan, pemerintah juga berhasil mendorong terjadinya pergeseran status dari desa berkembang menjadi desa mandiri semakin meningkat.

"Sebanyak 2.318 desa statusnya telah menjadi desa mandiri. Capaian ini juga sudah memenuhi target di dalam RPJMN yaitu meningkatkan 2.000 desa mandiri," ujar dia.

Dana desa merupakan salah satu faktor yang mendorong penurunan angka kemiskinan, yang pada periode Maret 2017 hingga Maret 2018 mencapai 1,82 juta orang.

"Yang paling menarik, dari 1,82 juta orang miskin itu terdapat 1,2 juta orang miskin yang ada di desa. Sedangkan, di kota hanya turun 520.000 hingga 580.000 orang miskin saja. Kalau akselerasi penurunan kemiskinan di desa ini dipertahankan, secara matematik dalam tujuh tahun ke depan, jumlah orang miskin di desa akan lebih kecil dari jumlah orang miskin di kota. Jadi kita akan terus pertahankan," ujar Eko.


26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.