Kompas.com - 25/09/2018, 18:07 WIB
Pekerja mengepel lantai di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (19/9). Perdagangan IHSG ditutup pada zona hijau atau menguat 61,81 poin atau 1,06 ke level 5.873,60 meski beberapa waktu lalu tertekan di zona merah sebagai imbas dari neraca perdagangan yang defisit sebesar 1,02 miliar Dolar AS pada Agustus 2018. ANTARA FOTO/SIGID KURNIAWANPekerja mengepel lantai di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (19/9). Perdagangan IHSG ditutup pada zona hijau atau menguat 61,81 poin atau 1,06 ke level 5.873,60 meski beberapa waktu lalu tertekan di zona merah sebagai imbas dari neraca perdagangan yang defisit sebesar 1,02 miliar Dolar AS pada Agustus 2018.

JAKARTA, KOMPAS.com - Harga minyak terus mendaki setelah OPEC dan produsen minyak negara aliansinya enggan menaikkan produksi untuk menutup kekurangan dari Iran, seperti permintaan AS.

Selasa (25/9/2018) pukul 17.07 WIB, harga minyak West Texas Intermediate untuk pengiriman November 2018 di New York Mercantile Exchange berada di level tertinggi tahun ini, 74,26 dollar AS per barrel.

Sedangkan harga minyak brent untuk pengiriman November 2018 di ICE Futures berada di 81,94 dollar AS per brarel. Harga minyak acuan internasional ini tembus di atas 80 dollar AS per barrel sejak kemarin dan mencapai level tertinggi sejak Desember 2014.

Wawan Hendrayana, Head Of Investment Research Infovesta Utama mengatakan, kenaikan harga minyak bagus tentu menjadi sentimen positif bagi emiten produsen minyak.

"Selalu ada plus minusnya, dimana menguntungkan emiten yang produksi minyak, namun juga berdampak pada defisit yang semakin melebar," kata Wawan, Selasa.

Selain emiten minyak, kenaikan harga minyak juga akan menguntungkan sektor batu bara. Apalagi jika pendapatan berbasis dollar AS. 

"Kenaikan harga minyak, lebih menjanjikan bagi emiten batubara, karena saham minyak masih sedikit. Dari segi kinerja keuangan juga lebih bagus sektor batubara. Tapi bukan berarti sektor bagus, sahamnya juga bagus ya," kata Wawan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Saham pilihan Wawan pada sektor batubara adalah PT Adaro Energy Tbk (ADRO) dengan target harga Rp 2.000 per saham pada akhir tahun dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) dengan target harga Rp 28.000 per saham. Hari ini, harga saham ADRO ditutup turun 0,27 persen ke Rp 1.815 per saham, sedangkan saham ITMG berada di Rp 25.600 per saham, naik 0,69 persen.

Wawan melihat, emiten sektor minyak yang bisa dicermati adalah PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC). Tapi dia tidak memberikan rekomendasi pada saham ini.

Sementara sektor yang terpengaruh efek buruk dari kenaikan minyak adalah sektor konsumer. Harga minyak akan mempengaruhi biaya produksi dan akan berdampak pada laba bersih.

Emiten yang menggunakan bahan baku impor sebagai bahan produksi utama pun akan kena efek negatif.

 

Berita ini telah tayang di Kontan.co.id dengan judul: Harga minyak naik, saham emiten batubara bisa ikut dilirik

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Sumber
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.