BrandzView
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Schneider

Menakar Biaya Operasional pada Bisnis Rumah Sakit

Kompas.com - 26/09/2018, 08:11 WIB
Ilustrasi rumah sakit SHUTTERSTOCKIlustrasi rumah sakit
|

KOMPAS.com – Pengelolaan suatu rumah sakit tidaklah mudah. Dengan pasien yang bisa datang kapan saja maka peralatan medis pun mesti siaga 24 jam dalam 7 hari penuh. 

Kompleksitas pengelolaan rumah sakit itu seperti dikisahkan Direktur Operasional Rumah Sakit (RS) Indriati Solo Andrew Santoso di sela-sela Innovation Summit Asia 2018, Jumat (21/9/2018), di Singapura.

Andrew mengatakan, bisnis rumah sakit termasuk dalam bisnis kepercayaan. Apabila layanan yang diberikan baik maka seseorang bisa saja memilih kembali berobat di rumah sakit tersebut ketika sakit.

“Nah, dari sisi kami sebagai pengelola, tantangan menjaga kepercayaan itu tentunya dengan memastikan layanan selalu prima di tengah tingginya biaya operasional,” ucapnya.

Ia lantas mengungkap proporsi biaya operasional rumah sakitnya. Sekadar informasi, RS Indriati memiliki 25 lantai dengan kapasitas 500 tempat tidur.

Dengan profil seperti itu, menurut Andrew, alat- alat medis menyumbang setidaknya 40 persen dari total biaya operasional tiap bulannya.

“Memang tinggi (biayanya). Seperti mesin radiologi dan radioterapi itu kan harus stand by terus. Demikian halnya, alat CT Scan turut membutuhkan listrik yang tidak sedikit,” kata Andrew.

Setelah alat medis, pendingin udara menjadi salah satu penyumbang terbesar pada biaya operasional RS Indriati.

“Sisa biaya operasional lainnya disumbang perawatan gedung dan lain-lain,” tambahnya.

Kestabilan listrik

Tak hanya menghadapi tingginya biaya operasional, lanjut Andrew, pihak rumah sakit mesti bergelut dengan belum stabilnya jaringan listrik di wilayahnya.

Kondisi itu membuat pengelola mesti mencari jalan keluar. Sebab, bisa fatal apabila listrik mendadak mati ketika sedang berlangsung operasi.

“Listrik terhenti 1-2 detik saja bisa celaka dalam dunia medis. Karena itulah, dari semula kami mencoba suatu sistem manajemen energi, misalnya EcoStruxure dari Schneider Electric,” kata Andrew.

Ilustrasi rumah sakitSHUTTERSTOCK Ilustrasi rumah sakit
Sistem tersebut, lanjut dia, dapat membuat listrik tetap mengalir lancar apa pun kondisi eksternalnya. 

“Pengelolaan operasional pun dapat dikontrol secara digital. Ini sangat membantu kami untuk efisiensi biaya operasional,” pungkasnya.

Sementara itu, Key Segment Leader for Healthcare and Real Estate Business Manager Schneider Electric Ferry Kurniawan mengatakan, pihaknya berupaya menyesuaikan jenis layanan yang ada dengan karakteristik dari masing-masing gedung.

“Kesesuaian solusi dengan kebutuhan operasional gedung itu penting. Tujuannya agar efisiensi dapat maksimal tercapai,” demikian Ferry.


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya