Saat Sri Mulyani Bicara di Depan Milenial soal Inflasi hingga Rupiah

Kompas.com - 29/09/2018, 22:40 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam Indonesia Economic Outlook (IEO) 2019 di Aula Badan Kebijakan Fiskal (BKF), Senin (24/9/2018). Kompas.com/Mutia FauziaMenteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam Indonesia Economic Outlook (IEO) 2019 di Aula Badan Kebijakan Fiskal (BKF), Senin (24/9/2018).

"Jika demand lebih banyak di mana lebih banyak impor, maka dollar lebih mahal," kata dia.

Tahun lalu, neraca perdagangan defisit Rp 17 miliar dollar AS. Tahun ini, baru pada Juni 2019, current account defisit  (CAD) mencapai 13,5 miliar dollar AS.

Hingga akhir 2018, Bank Indonesia memperkirakan CAD mencapai 30 miliar dollar AS. Oleh karen aitu, pemerintah menyusun berbagai kebijakan untuk mendongkrak aliran dana dari luar negeri.

Salah satunya dengan mendorong perusahaan unicorn untuk bisa semenarik mungkin sehingga bisa memikat investor asing untuk berinvestasi.

Selain itu, dengan mengembangkan kawasan pariwisata dan mendorong kegiatan ekspor. Di sisi lain, mau tak mau, pemerintah melakukan pembatasan terhadap impor. Tahun lalu, kata Sri Mulyani, Indonesia berhasil menarik dan sebesar 30 miliar dollar AS.

"Itu menambah suplai dollar. Kalau lebih banyak suplainya, maka dollar stabil dan rupiah kita menguat sedikit," kata Sri Mulyani.

Jika pergerakan penyesuaian nilai tukar rupiah tidak terlalu fluktuatif kata Sri Mulyani, masyarakat tak perlu khawatir.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Menurut dia, penyesuaian dalam bisnis dengan menaikkan harga jual merupakan hal yang biasa. Asalkan, kenaikan harga tidak terllau jauh agar tak terjadi inflasi.

Di media sosial, banyak kritik masyarakat yang ingin rupiah menguat hingga di bawah Rp 10.000.

Menurut Sri Mulyani, penguatan rupiah tak melulu berdampak positif. Bagi eksportir, rupiah yang terlalu kuat akan membuat rugi karena 1 dollar AS yang sebelumnya Rp 14.000 turun menjadi Rp 10.000. Pendapatannya jadi berkurang.

Hal sebaliknya justru dirasakan importir, di mana mereka jadi untung banyak. Namun, dampaknya, importir akan terus menerus melakukan impor sehingga pola kembali berulang. Impor jauh melampaui ekspor, permintaan terhadap dollar AS bertambah, rupiah melemah, dan harga-harga kembali mahal.

"Price changing itu sebagai pengatur kegiatan ekonomi kita. Selama dia berubahnya smooth, semua bisa adjust, tidak masalah," kata Sri Mulyani.

"Pemerintah tugasnya menjaga supaya perubahan itu tidak menimbulkan distrubtion yang menimbulkan banyak korban," lanjut dia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.