Tiga Skenario yang Disiapkan ESDM untuk Penuhi Kebutuhan Gas Bumi Indonesia

Kompas.com - 01/10/2018, 22:15 WIB
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar saat di kantornya, Jakarta, Senin (1/10/2018). KOMPAS.com/AKHDI MARTIN PRATAMAWakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar saat di kantornya, Jakarta, Senin (1/10/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar mengatakan, pihaknya berkomitmen untuk meningkatkan pemanfaatan gas bumi yang memiliki cadangan terbukti sekitar 100 triliun Standar Cubic Feet (TCF) sebagai energi bersih dan ramah lingkungan.

Dia menuturkan, pada 2017, pemanfaatan gas bumi untuk domestik sebesar 59 persen atau lebih besar dari ekspor yang sebesar 41 persen.

Pemanfaatan gas bumi domestik tersebut meliputi sektor industri sebesar 23,18 persen, sektor kelistrikan 14,09 persen, sektor pupuk 10,64 persen, Lifting Migas 2,73 persen, LNG Domestik 5,64 persen, LPG Domestik 2,17 persen dan 0,15 peraen untuk program pemerintah berupa Jargas Rumah Tangga dan SPBG.

"Sedangkan ekspor gas pipa sebesar 12,04 persen dan LNG Ekspor 29,37 persen," ujar Arcandra di kantornya, Senin (1/10/2018).

Menurut Arcandra, perubahan signifikan NGI Tahun 2018-2027 dengan NGI sebelumnya, yaitu pada metodologi proyeksi kebutuhan gas.

Pada NGI sebelumnya, metodologi proyeksi kebutuhan gas digabung antara kebutuhan gas yang sudah kontrak dengan kebutuhan gas yang masih potensial.

"Sedangkan pada NGI Tahun 2018-2027, proyeksi kebutuhan gas dibagi menjadi 3 skenario utama," kata Arcandra.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Skenario pertama, kata Arcandra, Neraca Gas Nasional diproyeksikan mengalami surplus gas pada tahun 2018-2027. Hal tersebut dikarenakan perhitungan proyeksi kebutuhan gas mengacu pada realisasi pemanfaatan gas bumi serta tidak diperpanjangnya kontrak-kontrak ekspor gas pipa/LNG untuk jangka panjang.

Skenario kedua, Neraca Gas Nasional diproyeksikan tetap surplus pada tahun 2018-2024. Sedangkan pada tahun 2025-2027 terdapat potensi dimana kebutuhan gas lebih besar daripada pasokan, namun hal tersebut belum mempertimbangkan adanya potensi pasokan gas dari penemuan cadangan baru dan kontrak gas di masa mendatang seperti blok Masela dan blok East Natuna.

Proyeksi kebutuhan gas pada skenario II, menggunakan asumsi pemanfaatan gas dari kontrak eksisting terealisasi 100 persen, Pemanfaatan gas untuk sektor kelistrikan sesuai dengan RUPTL 2018-2027.

Kemudian asumsi pertumbuhan gas bumi sesuai dengan pertumbuhan ekonomi yaitu 5,5 persen untuk sektor Industri Retail, Pelaksanaan Refinery Development Master Plan (RDMP) sesuai jadwal, pelaksanaan pembangunan pabrik-pabrik baru petrokimia dan pupuk sesuai jadwal.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.