Seratus Anak Pandai yang Berpotensi Menjadi Bodoh

Kompas.com - 04/10/2018, 05:45 WIB
Ilustrasi anak belajar di kelas ThinkstockIlustrasi anak belajar di kelas

MMengantarkan anak-anak kita ke jenjang kehidupan yang lebih baik selalu menjadi perhatian setiap orangtua.

Perhatian itu juga muncul dalam beragam dialog, terutama sejak Carol Dweck mengumumkan risetnya menyangkut ratusan anak pandai. Anak-anak tersebut ternyata lebih takut tidak dapat nilai bagus di sekolah, ketimbang dalam kehidupan itu sendiri.

Di banyak negara termasuk di sini, di Indonesia, kental sekali pandangan bahwa “Siapa yang sukses di sekolah pasti akan sukses dalam kehidupan.” Benarkah demikian?

Seratus Anak Pandai Dweck

Demikianlah temuan psikolog Dweck saat mengolah hasil eksperimennya di mancanegara yang responsnya konsisten. Begitu diberi soal yang sedikit lebih sulit, anak-anak pandai menolak untuk mengerjakannya. “Ini belum diajarkan," ujar mereka.

Hanya sedikit di antara anak-anak pintar di sekolah yang merasa tertantang,”Oh.. I love challenges and difficulties,” ujar Dweck menirukan anak-anak itu.

Temuan Dweck itu sekaligus menimbulkan perhatian bagi para scientist tentang dua hal yang saling berhubungan: mind and brain. Keduanya ada di kepala manusia, namun bekerjanya sangat berbeda. Brain bisa diobservasi, diangkat, dioperasi, atau difoto. Tetapi mind tidak.

Brain adalah jejaring material yang menghubungkan sel-sel otak melalui synaps dan reaksi-reaksi biokemikal. Sedangkan mind adalah suatu aliran ‘subjective experience’ dalam kehidupan masing-masing individu. Ia terbentuk melalui suatu pengalaman yang menyakitkan, menyenangkan, penuh tantangan, kekecewaan, kemarahan, atau sesuatu yang menggetarkan,” ujar Guru Besar Hebrew University–Israel, Yuval Noah Harari.

Para biologist mengasumsikan the brain membentuk the mind, dan reaksi-reaksi biokemistri di otak melahirkan getaran-getaran sel otak. Hanya saja, belum bisa dijelaskan bagaimana mind dibentuk oleh brain.

Kebingungan Harari dijawab oleh Dweck dalam “The New Psychology of Succcess”. Meski mind tidak dapat diobservasi melalui lensa mikroskop, Dweck dapat memahaminya melalui eksperimen psikologis.

Anak-anak pandai yang dikumpulkan Dweck mayoritas memiliki mindset fixed, yang diklaim orangtua sebagai berlaku tetap dan abadi. Maksudnya, sekali dinilai pandai, mereka akan abadi sebagai manusia berbakat atau cerdas dan bisa cepat menyelesaikan bermacam problem.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X